PERSEPSI PEMUSTAKA TERHADAP LAYANAN MANDIRI DALAM SISTEM PEMINJAMAN
DAN PENGEMBALIAN KOLEKSI DI PERPUSTAKAAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA BERBASIS
RFID
BAB IPENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Masa kini Teknologi Informasi menuntut pengembangan peran perpustakaan
tidak saja digunakan semata-mata secara konvensional tetapi juga sudah dalam
era globalisasi yang menuntut lebih cepat, dan mudah.
Keberadaaan teknologi informasi akan memudahkan perpustakaan dalam
mengaplikasikan konsep manajemen ilmu pengetahuan. Teknologi informasi akan
memudahkan perpustakaan dalam pengembangan pangkalan data, penelusuran
informasi, tranformasi digital, dan promosi.
Terjadinya perubahan pola pikir tentang perpustakaan, yaitu penyediaan
koleksi yang dimiliki ke arah konsep dalam memberikan informasi, telah
menjadikan jalinan kerjasama antar perpustakaan dalam menampilkan koleksi yang
dapat memudahkan penyampaian informasi, semakin mudah untuk diwujudkan, apalagi
dengan adanya perkembangan sistem RFID yang dipakai dalam perpustakaan. Maka
konsep gedung yang besar dan mewah serta banyaknya koleksi bukan merupakan
sesuatu yang ideal lagi. Oleh
karena itu pengembangan perpustakaan yang berbasis RFID bagi tenaga pengelola
perpustakaan, dapat membantu pekerjaan di perpustakaan melalui fungsi sistem
otomasi perpustakaan, sehingga proses pengelolaan perpustakaan lebih efektif
dan efisien. Sementara di sisi lain Perpustakaan Nasional telah mengembangkan
sistem layanan peminjaman dan pengembalian mandiri, sehingga akses yang dapat
ditempuh akan lebih mudah dan cepat.
Perpustakaan
Nasional Republik Indonesia (PNRI) yang telah menggunakan teknologi RFID dalam
pengelolaan perpustakaannya sehingga dapat digunakan dalam sistem pelayanan
mandiri yaitu sebagai alat pemroses dan sistem pengamanan data. Namun, apakah dengan menerapkan sistem
pelayanan mandiri ini benar-benar dapat mempermudah dan mempercepat proses peminjaman dan
pengembalian bahan pustaka?. Juga apakah data dan koleksi yang dimiliki
perpustakaan Nasional Republik Indonesia (PNRI) ini benar-benar terjaga
keamanannya dengan menggunakan teknologi RFID dalam peminjaman dan pengembalian
koleksi?. Oleh karena itu, peneliti tertarik dan ingin mengetahui lebih jauh
mengenai penerapan RFID dalam proses peminjaman dan pengembalian bahan pustaka
di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (PNRRI).
B.
Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, maka dapat dirumuskan
permasalahannya sebagai berikut: “ Bagaimana Persepsi Pemustaka dan Pustakawan
Terhadap Layanan Mandiri dalam Sistem Peminjaman dan Pengembalian Koleksi pada Perpustakaan Nasional
Republik Indonesia Berbasis RFID”.
C.
Fokus Penelitian
Untuk memperjelas permasalahan diatas, maka dapat diidentifikasi
beberapa masalahnya sebagai berikut:
1.
Bagaimana
persepsi pemustaka dan pustakawan terhadap penerapan pelayanan mandiri dalam
sistem peminjaman dan pengembalian berbasis teknologi RFID di perpustakaan
PNRII?
2.
Bagaimana
proses penerapan dalam sistem peminjaman dan pengembalian koleksi bahan pustaka
dan layanan di perpustakaan PNRI?
3.
Apa saja kendala-kendala yang dihadapi
perpustakaan PNRI dalam penerapan layanan mandiri?
D.
Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
1.
Untuk
mengetahui Persepsi terhadap pelayanan mandiri pada sistem peminjaman dan
pengembalian di perpustakaan Nasional RI
2.
Untuk
mengetahui kendala-kendala yang dihadapi perpustakaan Nasional RI dalam penerapan layanan mandiri dalam sistem
peminjaman dan pengembalian koleksi bahan pustaka.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
TINJAUAN PUSTAKA
A. Persepsi
dan Layanan Mandiri
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI)
(2002: 617) definisi persepsi adalah proses seseorang mengetahui beberapa hal
melalui panca inderanya.
Menurut Kamus
Besar Bahasa Indonesia (KBBI) (2001: 617) definisi mandiri adalah keadaan dapat
berdiri sendiri, tidak bergantung kepada orang lain. Jika digabung dengan kata
layanan menjadi frase layanan mandiri maka dapat didefinisikan bahwa layanan
mandiri adalah layanan yang dilakukan oleh dan untuk diri sendiri tanpa bantuan
orang lain atau tidak tergantung pada orang lain.
B. RFID (Radio Frequency Identification)
RFID
(Radio Frequency Identification) adalah
teknologi identifikasi berbasis gelombang radio (Supriyanto, 2008: 158). RFID
mampu mengidentifikasi berbagai objek secara simultan tanpa diperlukan kontak
langsung (atau dalam jarak pendek). Implementasi RFID secara efektif digunakan
pada lingkungan manufaktur atau industri yang memerlukan akurasi dan kecepatan
identifikasi objek dalam jumlah yang besar serta berada di area yang luas.
Kebutuhan
akan penggunaan teknologi sistem informasi menjadi hal yang tak terelakkan lagi
dewasa ini, tak terkecuali dunia perpustakaan. Penggunaan sistem informasi
menjanjikan suatu proses yang lebih efisien daripada proses konvensional.
Proses yang kompleks menuntut suatu instansi perpustakaan mencari cara agar
proses yang terjadi dapat berjalan dengan lebih efisien, mulai dari proses
pengadaan buku, inventarisasi, hingga
saat ini, barcode adalah salah satu
bentuk teknologi yang diimplementasikan pada berbagai instansi perpustakaan. Barcode dirasa mampu memenuhi kebutuhan
akan identifikasi dari koleksi-koleksi barang/buku yang dimiliki oleh
perpustakaan. Dengan barcode ini,
proses sirkulasi dapat dikerjakan dengan lebih cepat, yakni dengan tambahan hardware barcode reader dan aplikasi
software untuk menjalankan rutin-rutin sirkulasi.
Namun,
kebutuhan perpustakaan tidaklah cukup hanya dengan identifikasi saja. Barcode dirasa belum cukup untuk
memenuhi kebutuhan perpustakaan misalnya untuk menyimpan status apakah koleksi
yang ada sedang dipinjam atau tidak. Ini berarti kebutuhan perpustakaan
berkembang dari identifikasi menjadi kebutuhan untuk tracking.
Perpustakaan memerlukan metode yang tepat untuk mengetahui apakah buku
yang terdapat pada rak buku berada pada rak yang tepat atau tidak. Untuk itu,
perpustakaan di sejumlah negara maju sudah mulai beralih dari barcode ke Radio-frequency Identification (RFID).
RFID merupakan suatu
metode identifikasi yang dilakukan dengan cara menyimpan suatu data secara
elektronis pada suatu media yang dinamakan RFID Tag, yang merupakan alat pendukung RFID, untuk kemudian dibaca
melalui medium gelombang radio. Pada prinsipnya, RFID ini akan menggantikan
peran barcode. Namun, RFID menawarkan
suatu keunggulan lain yang tidak dimiliki oleh barcode. Dengan medium gelombang radio, suatu tag RFID dapat terbaca oleh reader
RFID secara jarak jauh selama RFID Tag
masih berada dalam jangkauan reader. Untuk
dapat mengetahui kebutuhan perpustakan secara tepat, perlu diketahui dulu siapa
saja pihak yang terkait (stakeholder)
terhadap sistem perpustakaan. Stakeholder
yang pertama adalah para pengguna perpustakaan. Mereka punya kepentingan agar
semua proses baik proses pencarian, pendaftaran keanggotaan, dan sirkulasi
dapat dilakukan dengan mudah dan cepat. Stakeholder
berikutnya adalah dari pihak manajemen perpustakaan. Mereka memiliki
kepentingan untuk memberikan pelayanan yang terbaik kepada para pengguna
perpustakaan. Di samping itu, manajemen perpustakaan juga bertanggung jawab
terhadap kondisi fisik dan keamanan semua koleksi yang dimiliki oleh instansi.
C. Self Return Books Drops
Koleksi yang dikembalikan langsung
diidentifikasi dengan RFID melalui book drop, dan fungsi security anti
pencurian (antithieft) diaktifkan kembali. Pada saat bersamaan database
perpusatakaan diperbaharui. Pengembalian mandiri (self return book drop)
menyediakan servis pengembalian 24 jam. Sebagai tambahan, book drop dapat dilengkapi dengan automatic sorting system,
menjadikan pengelolaan koleksi lebih efisien.
Namun di balik semua kemudahan yang ditawarkan
dari implementasi RFID, ada sejumlah hal yang harus diperhatikan agar
penggunaannya dapat berjalan secara efektif. Sistem yang baik adalah sistem
yang didukung oleh teknologi yang tepat dan digunakan oleh penggunanya secara
tepat. Dengan demikian, pihak manajemen perlu diberikan sosialisasi yang cukup
serta pelatihan yang baik, agar penggunaan RFID dapat terjaga. Pihak pengguna
perlu juga diberi pemahaman yang cukup agar proses automatisasi dapat
dilakukannya dengan benar.
E. LIBRA (Library RFID Automation)
LIBRA
adalah prasarana yang diperlukan dalam penerapan RFID di
perpustakaan Nasional Republik Indonesia, yang terdapat diantara interrogator
dan database serta software sistem
informasi manajemen yang ada. Interrogator adalah prasarana untuk membaca dan
juga menulis label secara remote.
LIBRA terdiri
dari hardware komputer dan software pemroses data terkoneksi ke
pusat penyimpanan data atau sistem informasi manajemen atau lebih mudahnya mencatat, menerima,
dan mengirim informasi dari label ke pusat penyimpanan data.
E. Pemanfaatan Pelayanan
Mandiri Dalam Sistem Peminjaman dan Pengembalian Koleksi
Berdasarkan
hasil wawancara dengan pemustaka dari latar belakang yang berbeda serta
pendapat Ibu Ratu Atibah selaku Ketua Kelompok layanan terbuka Perpustakaan Nasional RI
pada saat diwawancara bahwa pemanfaatan layanan mandiri dapat disimpulkan:
a.
Memudahkan layanan sirkulasi. Dengan cepatnya pengidentifikasian
data buku, maka semakin cepat pula layanan yang dapat diberikan kepada
pengguna. Hal ini juga dapat mengurangi kerja staf pada bagian layanan dan
meningkatkan kualitas layanan karena informasi yang ada pada buku sudah
diwakili oleh RFID Tag.
b.
Proses peminjaman dan pengembalian lebih mudah dan cepat.
c.
Memberikan jaminan keamanan pada koleksi. Jika ada buku yang
hilang dan tidak berada sesuai raknya tentunya dapat terdeteksi dengan baik
oleh RFID dan alarm akan berbunyi dengan sendirinya.
d.
Memudahkan pengguna dalam melakukan peminjaman maupun
pengembalian secara mandiri, dengan book drop ataupun anjungan mandiri,
proses pun dibuat otomatis agar memudahkan pengguna serta Memudahkan pada saat stock
opname.
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
Penelitian
merupakan suatu proses mencari kebenaran secara sistematik dalam waktu tertentu
dengan menggunakan metode ilmiah serta aturan-aturan yang berlaku. Metode
penelitian pada dasarnya mengungkapkan sejumlah cara yang diatur secara
sistematis, logis, rasional, dan terarah sehingga diharapkan mampu menjawab
secara ilmiah perumusan masalah yang ditetapkan. Metode penelitian yang
digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif. Dengan menggunakan
metode tersebut, penelitian ini dimaksudkan untuk menggambarkan dan memperjelas
sifat suatu keadaan yang berjalan pada saat penelitian dilakukan.
Menurut
(Masyhuri, 2009 :13) bahwa metode penelitian kualitatif tidak mementingkan
kedalaman data, yang penting dapat merekam data sebanyak-banyaknya dari populasi
yang bebas.
Konsep
penelitian dengan pendekatan kualitatif terjadi ketika peneliti terjun langsung
ke lapangan. Pendekatan penelitian kualitatif dijalankan dengan
fenomena-fenomena atau gejala yang berlaku dilapangan yang menyesuaikan dengan
situasi dan kondisi yang bisa saja berubah-ubah. Pengalaman terjadi akibat
adanya interaksi peneliti dengan apa yang terlihat, terdengar, dan terjadi di
lapangan. Pengalaman berdasarkan kenyataan lapangan ini menimbulkan pertanyaan
pendahuluan mengenai fenomena yang peneliti amati. Rancangan penelitian
berkembang selagi proses penelitian dijalankan.
A.
Teknik
Pengumpulan Data
Adapun teknik pengumpulan data yang digunakan dalam
penelitian ini adalah:
1.
observasi
adalah melakukan pengamatan dan pencatatan suatu obyek, secara sistematik
fenomena yang diselidiki (Sukandarrumidi, 2008: 35). Teknik pengumpulan data dalam penelitian
kualitatif dengan menggunakan observasi digunakan untuk mengumpulkan beberapa
informasi atau data yang berhubungan dengan ruang (tempat), pelaku, kegiatan,
objek, perbuatan, kejadian atau peristiwa, waktu, dan perasaan. Alasan peneliti
melakukan observasi adalah untuk menyajikan gambaran realistik perilaku atau
kejadian, untuk menjawab pertanyaan, untuk membantu mengerti perilaku manusia,
dan untuk evaluasi yaitu melakukan pengukuran terhadap aspek tertentu. Objek
penelitian yang peneliti lakukan yaitu pada Layanan Terbuka Perpustakaan Nasional RI .
2.
Peneliti
dapat menggunakan beberapa teknik wawancara yang sesuai dengan situasi dan
kondisi subjek yang terlibat dalam interaksi sosial yang dianggap memiliki
pengetahuan, mendalami situasi dan mengetahui informasi untuk mewakili
informasi atau data yang dibutuhkan untuk menjawab fokus penelitian. Wawancara yaitu suatu proses tanya jawab
secara lisan antara orang yang mewawancara dengan orang yang diwawancara
(Sukandarrumidi, 2008: 45). Wawancara,
yaitu dengan melakukan diskusi dan tanya jawab dengan beberapa narasumber yang
berkompeten dalam penelitian ini. Wawancara dilakukan dengan
informan yaitu pihak-pihak yang terkait dengan perpustakaan nasional Republik
Indonesia meliputi Kepala bagian pengembangan perpustakaan, staf perpustakaan
bagian layanan terbuka, dan pemustaka yang menggunakan pelayanan mandiri.
Wawancara dilakukan secara mendalam dengan tujuan untuk mengetahui bagaimana
penerapan pelayanan mandiri di Perpustakaan Nasional RI.
3.
Studi pustaka yaitu serangkaian kegiatan yang berkenaan dengan metode
pengumpulan pustaka, membaca serta mengolah mengolah bahan penelitian(Zed,
2008: 3).
Pendekatan kualitatif itu berakar pada latar alamiah
sebagai keutuhan, mengandalkan manusia sebagai alat penelitian, memanfaatkan
metode kualitatif, mengandalkan analisis data secara induktif, mengarahkan
sasaran penelitiannya pada usaha menemukan teori dari dasar, bersifat
deskriptif, lebih mementingkan proses daripada hasil, membatasi studi dengan
focus, memiliki seperangkat criteria untuk memeriksa keabsahan data, rancangan
penelitiannya disepakati oleh kedua belah pihak: peneliti dan subjek penelitian
(Masyhuri, 2009:22).
Demikian
juga dengan penelitian ini. Penenliti tertarik untuk meneliti suatu topik yaitu
Persepsi Pemustaka dan Pustakawan Terhadap Layanan Mandiri di Perpustakaan
Nasional RI Berbasis RFID
C. Sumber Data
Sumber data dalam penelitian merupakan orang yang kompeten dan terlibat
langsung dalam pelayanan mandiri di
Perpustakaan Nasional RI
1.
Beberapa pemustaka dari latar belakang yang berbeda
2.
Ratu Atibah, M.Si sebagai ketua kelompok layanan terbuka
PNRI
3.
Widiyati Kania, sebagai pustakawan pada layanan terbuka
PNRI
D. Populasi dan Sampel
1. Populasi
Dalam metode penelitian, populasi digunakan untuk
menyebutkan serumpun atau sekelompok objek yang menjadi masalah sasaran
penelitian (Masyhuri, 2008: 151). Menurut kompleksitas objek penelitian menurut
Masyhuri, maka populasi dapat dibedakan menjadi dua populasi homogen dan
populasi heterogen.
Populasi homogen merupakan keseluruhan individu yang yang
menjadi anggota populasi, memiliki sifat-sifat yang relatif sama satu dengan
lainnya. Sementara populasi heterogenadalah
keseluruhan individu anggota populasi relatif memiliki sifat-sifat individu,
dimana sifat tersebut membedakan dengan sifat individu lainnya. Dalam
penelitian ini populasi yang digunakan adalah pemusataka anggota layanan
terbuka PNRI.
2. Sampel
Sampel dimunculkan oleh peneliti pada penelitian
disebabkan karena (1) peneliti ingin mereduksi (memotong) obyek yang akan
diteliti. Peneliti tidak melakukan penyelidikannya pada semua obyek atau gejala
atau kejadian atau peristiwa tetapi hanya sebagian saja. (2) peneliti ingin
melakukan generalisasi dari hasil penelitiannya, artinya mengenakan
kesimpulannya kepada obyek, kejadian, gejala, atau peristiwa yang lebih luas
(Masyhuri, 2008: 153). Sampel yang digunakan dalam penelitian ini yaitu 50
pemustaka dan pustakawan dalam menggunakan layanan mandiri, serta dua
staf/pegawai pada layanan mandiri PNRI
E. Objek Penelitian
Laynan terbuka Perpustakaan Nasional RI di Jalan Merdeka Selatan 11 Jakarta
Pusat. Gedung ini merupakan tempat Deputi Bidang Sumber Daya Perpustakaan dan
tempat layanan terbuka Perpustakaan Nasional RI. Perpustakaan ini mengadopsi
sistem layanan terbuka (open access).
Informasi-informasi yang dibutuhkan mengenai Perpustakaan Nasional Republik
Indonesia khususnya yang berada di Jalan Merdeka Selatan 11 Jakarta Pusat atau
pemustaka yang ingin memperpanjang masa peminjaman bahan pustaka, dapat melalui
pesawat telepon di nomor 021-3518090, 3448813 ext. 236. peneliti mengadakan penelitian pada layanan terbuka di
Jalan Merdeka Selatan 11, yang mempunyai sistem layanan mandiri.
BAB IV
HASIL
PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Persepsi
Pemustaka dan Pustakawan Terhadap Pelayanan Mandiri
Sistem
layanan di Perpustakaan Nasional RI yang terletak di Jalan Merdeka Selatan yaitu
dengan menggunakan sistem layanan terbuka. Pada layanan terbuka ini, terdapat
layanan mandiri. Disediakan dua mesin LIBRA self check.
1.
Sistem Layanan Mandiri
Sistem
layanan mandiri yang diterapkan di layanan terbuka Perpustakaan Nasional RI
adalah sistem layanan sirkulasi dengan sistem automasi.
Teknologi yang dipakai yaitu dengan
sistem RFID (Radio Frequency Identification) merupakan teknologi
berbasis gelombang radio. Teknologi ini mampu mengidentifikasi berbagai objek
secara simultan tanpa diperlukan kontak langsung.
Sistem program yang digunakan adalah sistem INLIS (Integrated Library
Sistem) dan juga sistem LIBRA (Library RFID Automation). Pada awal dibukanya sistem layanan terbuka,
sistem program yang dipakai hanya sistem INLIS, tetapi menilai sistem INLIS
terdapat beberapa kekurangan, sehingga sistem LIBRA digunkanan pada layanan
sirkulasi. Tetapi dalam pelayanan secara mandiri, software yang digunakan
adalah LIBRA.
Menurut beberapa pemustaka yang penulis wawancarai, dapat diperoleh data
bahwa dengan adanya layanan mandiri, pemustaka lebih terbatu, lebih mudah dan
tidak perlu mengantri pada layanan sirkulasi. Selain itu juga menurut pemustaka
bahwa menu-menu yang ditampilkan mudah, sehingga lebih paham. Beberapa pendapat
pemustaka mengenai pelayanan mandiri diantaranya adalah:
1.
Menu
yang ditampilkan lebih mudah, karena bisa memilih yaitu bahasa Indonesia atau
bahasa Inggris
2.
Lebih
memilih layanan mandiri, selain pemustaka ingin tahu dan bisa menggunakan
layanan ini, pemustaka juga berjaga agar jika dalam layanan sirkulasi antri, langsung
menuju mesin LIBRA Self Check.
3.
Tanda
terima peminjaman atau pengembalian bahan pustaka tercetak, tanggal kembali dan
judul-judul yang dipinjam, sehingga memudahkan untuk diingat.
4.
Kendala
dalam pelayanan mandiri ini, terkadang rusak atau mati lampu, sehingga tidak
bis dipakai.
Menurut ibu Widiyati Kania, selaku pustakawan pada layanan terbuka, dapat
diperoleh informasi bahwa pemustaka merasa lebih terbatu dengan adanya
pelayanan mandiri ini, beberapa pendapat saat diwawancarai;
1.
Memberikan
pengenalan dan sosialisasi terhadap pelayanan mandiri, termasuk pengenalan book
drop. Sehingga pemustaka bisa secara mandiri meminjam dan mengembalikan koleksi
secara mandiri.
2.
Memberikan jaminan keamanan pada koleksi. Dapat terdeteksi
dengan baik oleh RFID dan alarm akan berbunyi dengan sendirinya.
3.
Memudahkan pengguna dalam melakukan peminjaman maupun
pengembalian secara mandiri, dengan book drop ataupun anjungan mandiri,
proses pun dibuat otomatis agar memudahkan pengguna.
B. Proses penerapan dalam sistem peminjaman dan
pengembalian koleksi bahan pustaka dan layanan di perpustakaan pnri
1. Sistem
Program Aplikasi yang Digunakan
Sistem program aplikasi yang
digunakan untuk pelayanan mandiri di Perpustakaan Nasional RI adalah sistem
LIBRA (Library RFID Automation). Sistem LIBRA mulai digunakan pada tahun
2008. Sistem LIBRA digunakan karena pada sistem INLIS terdapat kekurangan atau
kelemahan, sehingga sistem LIBRA ini digunakan. Pada sistem LIBRA terdapat
beberapa keunggulan yang dapat mempermudah dalam pelayanan kegiatan sirkulasi
diantaranya dapat membaca isi label buku, sehingga proses pelayanan dapat lebih
cepat dan mudah. Pada sistem LIBRA terdapat menu,
a.
Peminjaman
b.
Pengembalian
c.
Baca
Tag RFID
d.
Isi
label
e.
Laporan
transaksi peminjaman dan pengembalian
f.
Bahasa
2.
Pemakaian Sistem Aplikasi LIBRA
2.1 Halaman
utama layanan peminjaman sendiri
Halaman
utama anjungan layanan peminjaman mandiri terdapat dua pilihan bahasa Indonesia
dan bahasa Inggris, ini akan lebih memudahkan para pengguna untuk melakukan
transaksi peminjaman dan pengembalian buku secara mandiri.
2.1a Proses peminjaman buku
Langkah-langkah
peminjaman buku pada anjungan layanan peminjaman mandiri sebagai berikut:
pilih menu bahasa Indonesia pada halaman layar utama
letakkan buku pada Pad Hitam yang dibawah, peminjaman minimal satu buku,
dan tiga buku secara bersamaan.
Pilih tombol “pinjam” untuk melakukan transaksi peminjaman buku.
Setelah itu scan kartu anggota pada barcode scanner yang telah tersedia.
Setelah proses peminjaman berhasil di layar monitor akan muncul judul-judul
buku yang dipinjam. Tanda terima peminjaman akan dicetak secara otomatis.
Sistem aplikasi LIBRA (Library RFID Automation) mulai diterapkan di
layanan terbuka Perpustakaan Nasional RI pada tahun 2008. Sistem LIBRA (Library
RFID Automation) memudahkan petugas maupun peminjam dalam proses layanan
sirkulasi. Seperti dalam peminjaman bahan pustaka, peminjam bisa melakukan
peminjaman ataupun pengembalian tanpa petugas perpustakaan, karena telah
disediakan mesin untuk peminjaman maupun pengembalian. Peminjam hanya
meletakkan bahan pustaka yang akan dipinjamnya pada mesin, terlebih dahulu
menscan kartu anggota.
2.2 Proses pengembalian buku
1. pilih menu bahasa pada layar halaman utama
2. Letakkan buku pada Pad Hitam yang dibawah,
minimal pengembalian 1 buku dan maksimal 3 buku secara bersamaan
3. pilih tombol “kembali” untuk melakukan
transaksi pengembalian buku
4. Setelah proses pengembalian buku berhasil di layar monitor akan muncul
judul-judul buku yang dikembalikan. Tanda terima pengembalian akan dicetak
secara otomatis.
Ada beberapa
peraturan untuk meminjam bahan pustaka, antara lain:
a.
Peminjam
buku harus mempunyai kartu anggota perpustakaan
b.
Peminjam
tidak diperkenankan meminjam buku dengan menggunakan kartu orang lain
c.
Peminjaman
buku maksimal 3 eksemplar, jika peminjaman buku mulai dari 2 eksemplar harus
meninggalkan kartu identitas sebagai jaminan
d.
Peminjam
wajib merawat buku yang dipinjam
e.
Menghilangkan
atau merusakkan buku perpustakaan menjadi tanggung jawab peminjam
f.
Batas
waktu peminjam 1 minggu
g.
Perpanjangan
pinjaman bisa dilakukan hanya satu kali dan bisa lewat telepon
h.
Pengembalian
buku terlambat dikenakan sanksi.
Prosedur peminjaman
bahan pustaka di Perpustakaan Nasional adalah,
Scanning kartu anggota
Scanning / pembacaan label RFID buku yang akan dipinjam
Saving (penyimpanan) data sirkulasi
Berikut penjelasan
peminjaman untuk pengguna,
a.
Anggota
perpustakaan yang akan meminjam buku langsung masuk ke tempat koleksi untuk
memilih dan mencari buku yang akan dipinjam
b.
Anggota
perpustakaan mengambil sendiri buku yang akan dipinjam
c.
Buku
yang telah diambil, diserahkan kepada petugas disertai kartu anggota
d.
Untuk
peminjaman dengan mesin mandiri peminjam tidak perlu membutuhkan petugas dalam
proses peminjaman
e.
Petugas
menyerahkan buku yang dipinjam dan kartu anggota kepada peminjam, jika meminjam
dua atau tiga eksemplar peminjam wajib menyerahkan kartu sebagai jaminan
diantaranya KTP, SIM, KTM, dll.
C. Kendala-Kendala
dalam Pelayanan Mandiri dan Cara
Mengatasinya di Perpustakaan Nasional RI
Memang suatu kenyataan bahwa sebuah sistem teknologi yang
dipergunakan dalam suatu perpustakaan
pasti mempunyai kelemahan. Berdasarkan hasil wawancara dengan pendapat
beberapa pemustaka dan Ibu Ratu Atibah
selaku Ketua Kelompok Layanan Terbuka
PNRI pada saat diwawancara bahwa dalam pelaksanaannya, disamping
keunggulan-keunggulan yang ditawarkan oleh teknologi pelayanan mandiri,
terdapat pula beberapa kendala dalam pelayanan mandiri dan cara mengatasinya,
antara lain:
- Terkadang mesin rusak, sehingga mesin LIBRA self check
tidak berfungsi
- RFID itu lemah terhadap metal. Apapun yang berhubungan
dengan frekuensi pasti lemah terhadap metal. Karena metal adalah pemblok,
jadinya dapat menghalangi frekuensi. Jadi, jika ada metal di sekitar area
frekuensi RFID, maka frekuensi pada label akan terblok sehingga reader tidak dapat membaca.
- Denda tidak dapat dideteksi, sehingga jika peminjam
terlambat dan mengembalikannya dengan mesin ini biaya tidak dapat
berfungsi.
- Teknologi itu selalu berkembang, karena itu harus
diikuti terus dan harus dipelajari.
- Perlu perawatan, perlu tenaga ahli khusus, dan
anggarannya masih mahal. Oleh karena itu, perpustakaan
BAB
V
KESIMPULAN
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan
pembahasan dalam penelitian mengenai “Persepsi Pemustaka dan Pustakawan
Terhadap Layanan Mandiri dalam Peminjaman dan Pengembalian Koleksi di
Perpustakaan Nasional RI berbasis RFID” maka dapat diperoleh
kesimpulan sebagai berikut:
- Bahwa pemustaka merasa terbantu, lebih mudah dan
praktis dalam menggunakan layanan mandiri.
- Dalam penerapannya di perpustakaan pemustaka pada
umumnya tidak merasa kesulitan, karena menu yang ditampilkan mudah dan
bisa memilih dua bahasa.
- Dalam penerapannya di perpustakaan terbuka, RFID yang
digunakan adalah jenis LIBRA. Dengan adanya RFID, proses sirkulasi menjadi
semakin efisien. Selangkah lebih maju dari teknologi sebelumnya barcode, saat mengidentifikasi data RFID tidak
harus menggunakan garis baca, selama ada frekuensi RFID maka data akan
terbaca. Selain pada bagian layanan, RFID juga sangat bermanfaat dalam
memberikan keamanan pada koleksi dengan alarm yang terpasang pada koleksi.
Tetapi sebaliknya, pada bagian pengolahan RFID merupakan pekerjaan yang
bertambah.
- Terdapat pula kendala-kendala yang akan dihadapi
perpustakaan dalam menerapkan pelayanan mandiri, karena setiap teknologi
pasti mempunyai kelemahan. Diantaranya RFID itu lemah terhadap metal.
Karena metal adalah pemblok, jadinya dapat menghalangi frekuensi. Jadi,
jika ada metal di sekitar area frekuensi RFID, maka frekuensi pada label
akan terblok sehingga reader tidak
dapat membaca.
- Peminjaman dengan LIBRA self check kurang efektif,
karena peraturan administrasi jika meminjam buku lebih dari tiga eksemplar
harus meninggalkan kartu identitas, tetapi lewat mesin LIBRA self check
tidak akan terdeteksi.
DAFTAR
PUSTAKA
Darmono.
2007. Perpustakaan Sekolah : Pendekatan Aspek Manajemen dan Tata Kerja.
Jakarta : Grasindo.
_____________.
2010. LIBRA Manual Book. Jakarta: Radika Karya Utama.
Lasa
Hs. 2009. Kamus Kepustakawanan Indonesia. Yogyakarta: Pustaka Book
Publisher.
Martoatmojo, Karmidi. 2009. Pelayanan
Bahan Pustaka. Jakarta: Universitas Terbuka.
Masyhuri
dan M. Zainuddin. 2009. Metodologi Penelitian : Pendekatan Praktis dan
Aplikatif. Bandung: Refika Aditama.
Saputra,
Romi Febriyanto. 2008. Artikel: Revolusi Layanan Perpustakaan Nasional RI
Berbasis Teknologi Informasi. Jakarta: Pusat Jasa Perpustakaan dan
Informasi.
Subagyo,
Joko. 1997. Metode Penelitian : Dalam Teori dan Praktik. Jakarta: Rineka
Cipta.
Sukandarrumidi
dan Haryanto. 2008. Dasar-dasar Penulisan Proposal Penelitian.
Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Supriyanto,
Wahyu dan Ahmad Muhsin. 2008. Teknologi Informasi Perpustakaan.
Yogyakarta: Kanisius.
Widjajanti,
Ari dan Yuniwati. 2009. Undang-undang : Serah Simpan Karya Cetak dan Karya
Rekam. Semarang: Universitas
Diponegoro Semarang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar