Rabu, September 14, 2011

Makalah Seminar Ilmu Perpustakaan

PERSEPSI PEMUSTAKA TERHADAP LAYANAN MANDIRI DALAM SISTEM PEMINJAMAN DAN PENGEMBALIAN KOLEKSI DI PERPUSTAKAAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA BERBASIS RFID
BAB I 
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Masa kini Teknologi Informasi menuntut pengembangan peran perpustakaan tidak saja digunakan semata-mata secara konvensional tetapi juga sudah dalam era globalisasi yang menuntut lebih cepat, dan mudah.
Keberadaaan teknologi informasi akan memudahkan perpustakaan dalam mengaplikasikan konsep manajemen ilmu pengetahuan. Teknologi informasi akan memudahkan perpustakaan dalam pengembangan pangkalan data, penelusuran informasi, tranformasi digital, dan promosi.
Terjadinya perubahan pola pikir tentang perpustakaan, yaitu penyediaan koleksi yang dimiliki ke arah konsep dalam memberikan informasi, telah menjadikan jalinan kerjasama antar perpustakaan dalam menampilkan koleksi yang dapat memudahkan penyampaian informasi, semakin mudah untuk diwujudkan, apalagi dengan adanya perkembangan sistem RFID yang dipakai dalam perpustakaan. Maka konsep gedung yang besar dan mewah serta banyaknya koleksi bukan merupakan sesuatu yang ideal lagi.        Oleh karena itu pengembangan perpustakaan yang berbasis RFID bagi tenaga pengelola perpustakaan, dapat membantu pekerjaan di perpustakaan melalui fungsi sistem otomasi perpustakaan, sehingga proses pengelolaan perpustakaan lebih efektif dan efisien. Sementara di sisi lain Perpustakaan Nasional telah mengembangkan sistem layanan peminjaman dan pengembalian mandiri, sehingga akses yang dapat ditempuh akan lebih mudah dan cepat.
Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (PNRI) yang telah menggunakan teknologi RFID dalam pengelolaan perpustakaannya sehingga dapat digunakan dalam sistem pelayanan mandiri yaitu sebagai alat pemroses dan sistem pengamanan data.  Namun, apakah dengan menerapkan sistem pelayanan mandiri ini benar-benar dapat mempermudah dan  mempercepat proses peminjaman dan pengembalian bahan pustaka?. Juga apakah data dan koleksi yang dimiliki perpustakaan Nasional Republik Indonesia (PNRI) ini benar-benar terjaga keamanannya dengan menggunakan teknologi RFID dalam peminjaman dan pengembalian koleksi?. Oleh karena itu, peneliti tertarik dan ingin mengetahui lebih jauh mengenai penerapan RFID dalam proses peminjaman dan pengembalian bahan pustaka di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (PNRRI).
B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, maka dapat dirumuskan permasalahannya sebagai berikut: “ Bagaimana Persepsi Pemustaka dan Pustakawan Terhadap Layanan Mandiri dalam Sistem Peminjaman dan Pengembalian Koleksi pada Perpustakaan Nasional Republik Indonesia Berbasis RFID”.
C.    Fokus Penelitian
Untuk memperjelas permasalahan diatas, maka dapat diidentifikasi beberapa masalahnya sebagai berikut:
1.      Bagaimana persepsi pemustaka dan pustakawan terhadap penerapan pelayanan mandiri dalam sistem peminjaman dan pengembalian berbasis teknologi RFID di perpustakaan PNRII?
2.      Bagaimana proses penerapan dalam sistem peminjaman dan pengembalian koleksi bahan pustaka dan layanan di perpustakaan PNRI?
3.      Apa saja kendala-kendala yang dihadapi perpustakaan PNRI dalam penerapan layanan mandiri?
D.    Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
1.      Untuk mengetahui Persepsi terhadap pelayanan mandiri pada sistem peminjaman dan pengembalian  di perpustakaan Nasional RI
2.      Untuk mengetahui kendala-kendala yang dihadapi perpustakaan Nasional RI  dalam penerapan layanan mandiri dalam sistem peminjaman dan pengembalian koleksi bahan pustaka.

 BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A.  Persepsi dan Layanan Mandiri
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) (2002: 617) definisi persepsi adalah proses seseorang mengetahui beberapa hal melalui panca inderanya.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) (2001: 617) definisi mandiri adalah keadaan dapat berdiri sendiri, tidak bergantung kepada orang lain. Jika digabung dengan kata layanan menjadi frase layanan mandiri maka dapat didefinisikan bahwa layanan mandiri adalah layanan yang dilakukan oleh dan untuk diri sendiri tanpa bantuan orang lain atau tidak tergantung pada orang lain.

B.  RFID (Radio Frequency Identification)
RFID (Radio Frequency Identification)  adalah teknologi identifikasi berbasis gelombang radio (Supriyanto, 2008: 158). RFID mampu mengidentifikasi berbagai objek secara simultan tanpa diperlukan kontak langsung (atau dalam jarak pendek). Implementasi RFID secara efektif digunakan pada lingkungan manufaktur atau industri yang memerlukan akurasi dan kecepatan identifikasi objek dalam jumlah yang besar serta berada di area yang luas.
Kebutuhan akan penggunaan teknologi sistem informasi menjadi hal yang tak terelakkan lagi dewasa ini, tak terkecuali dunia perpustakaan. Penggunaan sistem informasi menjanjikan suatu proses yang lebih efisien daripada proses konvensional. Proses yang kompleks menuntut suatu instansi perpustakaan mencari cara agar proses yang terjadi dapat berjalan dengan lebih efisien, mulai dari proses pengadaan buku, inventarisasi,  hingga saat ini, barcode adalah salah satu bentuk teknologi yang diimplementasikan pada berbagai instansi perpustakaan. Barcode dirasa mampu memenuhi kebutuhan akan identifikasi dari koleksi-koleksi barang/buku yang dimiliki oleh perpustakaan. Dengan barcode ini, proses sirkulasi dapat dikerjakan dengan lebih cepat, yakni dengan tambahan hardware barcode reader dan aplikasi software untuk menjalankan rutin-rutin sirkulasi.
Namun, kebutuhan perpustakaan tidaklah cukup hanya dengan identifikasi saja. Barcode dirasa belum cukup untuk memenuhi kebutuhan perpustakaan misalnya untuk menyimpan status apakah koleksi yang ada sedang dipinjam atau tidak. Ini berarti kebutuhan perpustakaan berkembang dari identifikasi menjadi kebutuhan untuk tracking. Perpustakaan  memerlukan metode yang tepat untuk mengetahui apakah buku yang terdapat pada rak buku berada pada rak yang tepat atau tidak. Untuk itu, perpustakaan di sejumlah negara maju sudah mulai beralih dari barcode ke Radio-frequency Identification (RFID).
RFID merupakan suatu metode identifikasi yang dilakukan dengan cara menyimpan suatu data secara elektronis pada suatu media yang dinamakan RFID Tag, yang merupakan alat pendukung RFID, untuk kemudian dibaca melalui medium gelombang radio. Pada prinsipnya, RFID ini akan menggantikan peran barcode. Namun, RFID menawarkan suatu keunggulan lain yang tidak dimiliki oleh barcode. Dengan medium gelombang radio, suatu tag RFID dapat terbaca oleh reader RFID secara jarak jauh selama RFID Tag masih berada dalam jangkauan reader. Untuk dapat mengetahui kebutuhan perpustakan secara tepat, perlu diketahui dulu siapa saja pihak yang terkait (stakeholder) terhadap sistem perpustakaan. Stakeholder yang pertama adalah para pengguna perpustakaan. Mereka punya kepentingan agar semua proses baik proses pencarian, pendaftaran keanggotaan, dan sirkulasi dapat dilakukan dengan mudah dan cepat. Stakeholder berikutnya adalah dari pihak manajemen perpustakaan. Mereka memiliki kepentingan untuk memberikan pelayanan yang terbaik kepada para pengguna perpustakaan. Di samping itu, manajemen perpustakaan juga bertanggung jawab terhadap kondisi fisik dan keamanan semua koleksi yang dimiliki oleh instansi.


 C.   Self Return Books Drops
Koleksi yang dikembalikan langsung diidentifikasi dengan RFID melalui book drop, dan fungsi security anti pencurian (antithieft) diaktifkan kembali. Pada saat bersamaan database perpusatakaan diperbaharui. Pengembalian mandiri (self return book drop) menyediakan servis pengembalian 24 jam. Sebagai tambahan, book drop dapat dilengkapi dengan automatic sorting system, menjadikan pengelolaan koleksi lebih efisien.
Namun di balik semua kemudahan yang ditawarkan dari implementasi RFID, ada sejumlah hal yang harus diperhatikan agar penggunaannya dapat berjalan secara efektif. Sistem yang baik adalah sistem yang didukung oleh teknologi yang tepat dan digunakan oleh penggunanya secara tepat. Dengan demikian, pihak manajemen perlu diberikan sosialisasi yang cukup serta pelatihan yang baik, agar penggunaan RFID dapat terjaga. Pihak pengguna perlu juga diberi pemahaman yang cukup agar proses automatisasi dapat dilakukannya dengan benar.

E.  LIBRA (Library RFID Automation)
LIBRA adalah prasarana yang diperlukan dalam penerapan RFID di perpustakaan Nasional Republik Indonesia, yang terdapat diantara interrogator dan database serta software sistem informasi manajemen yang ada. Interrogator adalah prasarana untuk membaca dan juga menulis label secara remote.
LIBRA terdiri dari hardware komputer dan software pemroses data terkoneksi ke pusat penyimpanan data atau sistem informasi manajemen atau lebih mudahnya mencatat, menerima, dan mengirim informasi dari label ke pusat penyimpanan data.

E.  Pemanfaatan Pelayanan Mandiri Dalam Sistem Peminjaman dan Pengembalian Koleksi
Berdasarkan hasil wawancara dengan pemustaka dari latar belakang yang berbeda serta pendapat Ibu Ratu Atibah selaku Ketua Kelompok layanan terbuka Perpustakaan Nasional RI pada saat diwawancara bahwa pemanfaatan layanan mandiri dapat disimpulkan:
a.       Memudahkan layanan sirkulasi. Dengan cepatnya pengidentifikasian data buku, maka semakin cepat pula layanan yang dapat diberikan kepada pengguna. Hal ini juga dapat mengurangi kerja staf pada bagian layanan dan meningkatkan kualitas layanan karena informasi yang ada pada buku sudah diwakili oleh RFID Tag.
b.      Proses peminjaman dan pengembalian lebih mudah dan cepat.
c.       Memberikan jaminan keamanan pada koleksi. Jika ada buku yang hilang dan tidak berada sesuai raknya tentunya dapat terdeteksi dengan baik oleh RFID dan alarm akan berbunyi dengan sendirinya.
d.      Memudahkan pengguna dalam melakukan peminjaman maupun pengembalian secara mandiri, dengan book drop ataupun anjungan mandiri, proses pun dibuat otomatis agar memudahkan pengguna serta Memudahkan pada saat stock opname.
 BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

Penelitian merupakan suatu proses mencari kebenaran secara sistematik dalam waktu tertentu dengan menggunakan metode ilmiah serta aturan-aturan yang berlaku. Metode penelitian pada dasarnya mengungkapkan sejumlah cara yang diatur secara sistematis, logis, rasional, dan terarah sehingga diharapkan mampu menjawab secara ilmiah perumusan masalah yang ditetapkan. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif. Dengan menggunakan metode tersebut, penelitian ini dimaksudkan untuk menggambarkan dan memperjelas sifat suatu keadaan yang berjalan pada saat penelitian dilakukan.
Menurut (Masyhuri, 2009 :13) bahwa metode penelitian kualitatif tidak mementingkan kedalaman data, yang penting dapat merekam data sebanyak-banyaknya dari populasi yang bebas.
Konsep penelitian dengan pendekatan kualitatif terjadi ketika peneliti terjun langsung ke lapangan. Pendekatan penelitian kualitatif dijalankan dengan fenomena-fenomena atau gejala yang berlaku dilapangan yang menyesuaikan dengan situasi dan kondisi yang bisa saja berubah-ubah. Pengalaman terjadi akibat adanya interaksi peneliti dengan apa yang terlihat, terdengar, dan terjadi di lapangan. Pengalaman berdasarkan kenyataan lapangan ini menimbulkan pertanyaan pendahuluan mengenai fenomena yang peneliti amati. Rancangan penelitian berkembang selagi proses penelitian dijalankan.


A.    Teknik Pengumpulan Data
Adapun teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah:
1.      observasi adalah melakukan pengamatan dan pencatatan suatu obyek, secara sistematik fenomena yang diselidiki (Sukandarrumidi, 2008: 35). Teknik pengumpulan data dalam penelitian kualitatif dengan menggunakan observasi digunakan untuk mengumpulkan beberapa informasi atau data yang berhubungan dengan ruang (tempat), pelaku, kegiatan, objek, perbuatan, kejadian atau peristiwa, waktu, dan perasaan. Alasan peneliti melakukan observasi adalah untuk menyajikan gambaran realistik perilaku atau kejadian, untuk menjawab pertanyaan, untuk membantu mengerti perilaku manusia, dan untuk evaluasi yaitu melakukan pengukuran terhadap aspek tertentu. Objek penelitian yang peneliti lakukan yaitu pada Layanan Terbuka Perpustakaan Nasional RI.
2.      Peneliti dapat menggunakan beberapa teknik wawancara yang sesuai dengan situasi dan kondisi subjek yang terlibat dalam interaksi sosial yang dianggap memiliki pengetahuan, mendalami situasi dan mengetahui informasi untuk mewakili informasi atau data yang dibutuhkan untuk menjawab fokus penelitian.  Wawancara yaitu suatu proses tanya jawab secara lisan antara orang yang mewawancara dengan orang yang diwawancara (Sukandarrumidi, 2008: 45). Wawancara, yaitu dengan melakukan diskusi dan tanya jawab dengan beberapa narasumber yang berkompeten dalam penelitian ini.  Wawancara dilakukan dengan informan yaitu pihak-pihak yang terkait dengan perpustakaan nasional Republik Indonesia meliputi Kepala bagian pengembangan perpustakaan, staf perpustakaan bagian layanan terbuka, dan pemustaka yang menggunakan pelayanan mandiri. Wawancara dilakukan secara mendalam dengan tujuan untuk mengetahui bagaimana penerapan pelayanan mandiri di Perpustakaan Nasional RI.
3.      Studi pustaka yaitu serangkaian kegiatan yang berkenaan dengan metode pengumpulan pustaka, membaca serta mengolah mengolah bahan penelitian(Zed, 2008: 3).
Pendekatan kualitatif itu berakar pada latar alamiah sebagai keutuhan, mengandalkan manusia sebagai alat penelitian, memanfaatkan metode kualitatif, mengandalkan analisis data secara induktif, mengarahkan sasaran penelitiannya pada usaha menemukan teori dari dasar, bersifat deskriptif, lebih mementingkan proses daripada hasil, membatasi studi dengan focus, memiliki seperangkat criteria untuk memeriksa keabsahan data, rancangan penelitiannya disepakati oleh kedua belah pihak: peneliti dan subjek penelitian (Masyhuri, 2009:22).
Demikian juga dengan penelitian ini. Penenliti tertarik untuk meneliti suatu topik yaitu Persepsi Pemustaka dan Pustakawan Terhadap Layanan Mandiri di Perpustakaan Nasional RI Berbasis RFID

C.  Sumber Data
Sumber data dalam penelitian merupakan orang yang kompeten dan terlibat langsung dalam pelayanan mandiri  di Perpustakaan Nasional RI
1.      Beberapa pemustaka dari latar belakang yang berbeda
2.      Ratu Atibah, M.Si sebagai ketua kelompok layanan terbuka PNRI
3.      Widiyati Kania, sebagai pustakawan pada layanan terbuka PNRI

D.  Populasi dan Sampel
1.   Populasi
Dalam metode penelitian, populasi digunakan untuk menyebutkan serumpun atau sekelompok objek yang menjadi masalah sasaran penelitian (Masyhuri, 2008: 151). Menurut kompleksitas objek penelitian menurut Masyhuri, maka populasi dapat dibedakan menjadi dua populasi homogen dan populasi heterogen.
Populasi homogen merupakan keseluruhan individu yang yang menjadi anggota populasi, memiliki sifat-sifat yang relatif sama satu dengan lainnya. Sementara populasi  heterogenadalah keseluruhan individu anggota populasi relatif memiliki sifat-sifat individu, dimana sifat tersebut membedakan dengan sifat individu lainnya. Dalam penelitian ini populasi yang digunakan adalah pemusataka anggota layanan terbuka PNRI.
2.   Sampel
Sampel dimunculkan oleh peneliti pada penelitian disebabkan karena (1) peneliti ingin mereduksi (memotong) obyek yang akan diteliti. Peneliti tidak melakukan penyelidikannya pada semua obyek atau gejala atau kejadian atau peristiwa tetapi hanya sebagian saja. (2) peneliti ingin melakukan generalisasi dari hasil penelitiannya, artinya mengenakan kesimpulannya kepada obyek, kejadian, gejala, atau peristiwa yang lebih luas (Masyhuri, 2008: 153). Sampel yang digunakan dalam penelitian ini yaitu 50 pemustaka dan pustakawan dalam menggunakan layanan mandiri, serta dua staf/pegawai pada layanan mandiri PNRI

E.  Objek Penelitian
Laynan terbuka Perpustakaan Nasional RI di Jalan Merdeka Selatan 11 Jakarta Pusat. Gedung ini merupakan tempat Deputi Bidang Sumber Daya Perpustakaan dan tempat layanan terbuka Perpustakaan Nasional RI. Perpustakaan ini mengadopsi sistem layanan terbuka (open access). Informasi-informasi yang dibutuhkan mengenai Perpustakaan Nasional Republik Indonesia khususnya yang berada di Jalan Merdeka Selatan 11 Jakarta Pusat atau pemustaka yang ingin memperpanjang masa peminjaman bahan pustaka, dapat melalui pesawat telepon di nomor 021-3518090, 3448813 ext. 236. peneliti mengadakan penelitian pada layanan terbuka di Jalan Merdeka Selatan 11, yang mempunyai sistem layanan mandiri.
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A.  Persepsi Pemustaka dan Pustakawan Terhadap Pelayanan Mandiri
Sistem layanan di Perpustakaan Nasional RI yang terletak di Jalan Merdeka Selatan yaitu dengan menggunakan sistem layanan terbuka. Pada layanan terbuka ini, terdapat layanan mandiri. Disediakan dua mesin LIBRA self check.
1.      Sistem Layanan Mandiri
Sistem layanan mandiri yang diterapkan di layanan terbuka Perpustakaan Nasional RI adalah sistem layanan sirkulasi dengan sistem automasi.
Teknologi  yang dipakai yaitu dengan sistem RFID (Radio Frequency Identification) merupakan teknologi berbasis gelombang radio. Teknologi ini mampu mengidentifikasi berbagai objek secara simultan tanpa diperlukan kontak langsung.
Sistem program yang digunakan adalah sistem INLIS (Integrated Library Sistem) dan juga sistem LIBRA (Library RFID Automation).  Pada awal dibukanya sistem layanan terbuka, sistem program yang dipakai hanya sistem INLIS, tetapi menilai sistem INLIS terdapat beberapa kekurangan, sehingga sistem LIBRA digunkanan pada layanan sirkulasi. Tetapi dalam pelayanan secara mandiri, software yang digunakan adalah LIBRA.
Menurut beberapa pemustaka yang penulis wawancarai, dapat diperoleh data bahwa dengan adanya layanan mandiri, pemustaka lebih terbatu, lebih mudah dan tidak perlu mengantri pada layanan sirkulasi. Selain itu juga menurut pemustaka bahwa menu-menu yang ditampilkan mudah, sehingga lebih paham. Beberapa pendapat pemustaka mengenai pelayanan mandiri diantaranya adalah:
1.      Menu yang ditampilkan lebih mudah, karena bisa memilih yaitu bahasa Indonesia atau bahasa Inggris
2.      Lebih memilih layanan mandiri, selain pemustaka ingin tahu dan bisa menggunakan layanan ini, pemustaka juga berjaga agar jika dalam layanan sirkulasi antri, langsung menuju mesin LIBRA Self Check.
3.      Tanda terima peminjaman atau pengembalian bahan pustaka tercetak, tanggal kembali dan judul-judul yang dipinjam, sehingga memudahkan untuk diingat.
4.      Kendala dalam pelayanan mandiri ini, terkadang rusak atau mati lampu, sehingga tidak bis dipakai.

Menurut ibu Widiyati Kania, selaku pustakawan pada layanan terbuka, dapat diperoleh informasi bahwa pemustaka merasa lebih terbatu dengan adanya pelayanan mandiri ini, beberapa pendapat saat diwawancarai;
1.      Memberikan pengenalan dan sosialisasi terhadap pelayanan mandiri, termasuk pengenalan book drop. Sehingga pemustaka bisa secara mandiri meminjam dan mengembalikan koleksi secara mandiri.
2.      Memberikan jaminan keamanan pada koleksi. Dapat terdeteksi dengan baik oleh RFID dan alarm akan berbunyi dengan sendirinya.
3.      Memudahkan pengguna dalam melakukan peminjaman maupun pengembalian secara mandiri, dengan book drop ataupun anjungan mandiri, proses pun dibuat otomatis agar memudahkan pengguna.

B. Proses penerapan dalam sistem peminjaman dan pengembalian koleksi bahan pustaka dan layanan di perpustakaan pnri
1. Sistem Program Aplikasi yang Digunakan
Sistem program aplikasi  yang digunakan untuk pelayanan mandiri di Perpustakaan Nasional RI adalah sistem LIBRA (Library RFID Automation). Sistem LIBRA mulai digunakan pada tahun 2008. Sistem LIBRA digunakan karena pada sistem INLIS terdapat kekurangan atau kelemahan, sehingga sistem LIBRA ini digunakan. Pada sistem LIBRA terdapat beberapa keunggulan yang dapat mempermudah dalam pelayanan kegiatan sirkulasi diantaranya dapat membaca isi label buku, sehingga proses pelayanan dapat lebih cepat dan mudah. Pada sistem LIBRA terdapat menu,
a.       Peminjaman
b.      Pengembalian
c.       Baca Tag RFID
d.      Isi label
e.       Laporan transaksi peminjaman dan pengembalian
f.       Bahasa
2.      Pemakaian Sistem Aplikasi LIBRA
      2.1    Halaman utama layanan peminjaman sendiri
Halaman utama anjungan layanan peminjaman mandiri terdapat dua pilihan bahasa Indonesia dan bahasa Inggris, ini akan lebih memudahkan para pengguna untuk melakukan transaksi peminjaman dan pengembalian buku secara mandiri.
2.1a           Proses peminjaman buku
Langkah-langkah peminjaman buku pada anjungan layanan peminjaman mandiri sebagai berikut:
pilih menu bahasa Indonesia pada halaman layar utama
letakkan buku pada Pad Hitam yang dibawah, peminjaman minimal satu buku, dan tiga buku secara bersamaan.
Pilih tombol “pinjam” untuk melakukan transaksi peminjaman buku.
Setelah itu scan kartu anggota pada barcode scanner yang telah tersedia.
Setelah proses peminjaman berhasil di layar monitor akan muncul judul-judul buku yang dipinjam. Tanda terima peminjaman akan dicetak secara otomatis.
Sistem aplikasi LIBRA (Library RFID Automation) mulai diterapkan di layanan terbuka Perpustakaan Nasional RI pada tahun 2008. Sistem LIBRA (Library RFID Automation) memudahkan petugas maupun peminjam dalam proses layanan sirkulasi. Seperti dalam peminjaman bahan pustaka, peminjam bisa melakukan peminjaman ataupun pengembalian tanpa petugas perpustakaan, karena telah disediakan mesin untuk peminjaman maupun pengembalian. Peminjam hanya meletakkan bahan pustaka yang akan dipinjamnya pada mesin, terlebih dahulu menscan kartu anggota.
                        2.2       Proses pengembalian buku
1.   pilih menu bahasa pada layar halaman utama
2.   Letakkan buku pada Pad Hitam yang dibawah, minimal pengembalian 1 buku dan maksimal 3 buku secara bersamaan
3.   pilih tombol “kembali” untuk melakukan transaksi pengembalian buku
4.   Setelah proses pengembalian buku  berhasil di layar monitor akan muncul judul-judul buku yang dikembalikan. Tanda terima pengembalian akan dicetak secara otomatis.
                
Ada beberapa peraturan untuk meminjam bahan pustaka, antara lain:
a.       Peminjam buku harus mempunyai kartu anggota perpustakaan
b.      Peminjam tidak diperkenankan meminjam buku dengan menggunakan kartu orang lain
c.       Peminjaman buku maksimal 3 eksemplar, jika peminjaman buku mulai dari 2 eksemplar harus meninggalkan kartu identitas sebagai jaminan
d.      Peminjam wajib merawat buku yang dipinjam
e.       Menghilangkan atau merusakkan buku perpustakaan menjadi tanggung jawab peminjam
f.       Batas waktu peminjam 1 minggu
g.      Perpanjangan pinjaman bisa dilakukan hanya satu kali dan bisa lewat telepon
h.      Pengembalian buku terlambat dikenakan sanksi.
Prosedur peminjaman bahan pustaka di Perpustakaan Nasional adalah,
Scanning kartu anggota
Scanning / pembacaan label RFID buku yang akan dipinjam
Saving (penyimpanan) data sirkulasi
Berikut penjelasan peminjaman untuk pengguna,
a.       Anggota perpustakaan yang akan meminjam buku langsung masuk ke tempat koleksi untuk memilih dan mencari buku yang akan dipinjam
b.      Anggota perpustakaan mengambil sendiri buku yang akan dipinjam
c.       Buku yang telah diambil, diserahkan kepada petugas disertai kartu anggota
d.      Untuk peminjaman dengan mesin mandiri peminjam tidak perlu membutuhkan petugas dalam proses peminjaman
e.       Petugas menyerahkan buku yang dipinjam dan kartu anggota kepada peminjam, jika meminjam dua atau tiga eksemplar peminjam wajib menyerahkan kartu sebagai jaminan diantaranya KTP, SIM, KTM, dll.
           
C.  Kendala-Kendala dalam Pelayanan Mandiri  dan Cara Mengatasinya di Perpustakaan Nasional RI
Memang suatu kenyataan bahwa sebuah sistem teknologi yang dipergunakan dalam suatu perpustakaan  pasti mempunyai kelemahan. Berdasarkan hasil wawancara dengan pendapat beberapa pemustaka dan Ibu Ratu Atibah   selaku Ketua Kelompok Layanan Terbuka  PNRI pada saat diwawancara bahwa dalam pelaksanaannya, disamping keunggulan-keunggulan yang ditawarkan oleh teknologi pelayanan mandiri, terdapat pula beberapa kendala dalam pelayanan mandiri dan cara mengatasinya, antara lain:
  1. Terkadang mesin rusak, sehingga mesin LIBRA self check tidak berfungsi
  2. RFID itu lemah terhadap metal. Apapun yang berhubungan dengan frekuensi pasti lemah terhadap metal. Karena metal adalah pemblok, jadinya dapat menghalangi frekuensi. Jadi, jika ada metal di sekitar area frekuensi RFID, maka frekuensi pada label akan terblok sehingga reader tidak dapat membaca.
  3. Denda tidak dapat dideteksi, sehingga jika peminjam terlambat dan mengembalikannya dengan mesin ini biaya tidak dapat berfungsi.
  4. Teknologi itu selalu berkembang, karena itu harus diikuti terus dan harus dipelajari.
  5. Perlu perawatan, perlu tenaga ahli khusus, dan anggarannya masih mahal. Oleh karena itu, perpustakaan
BAB V
KESIMPULAN
A.     Kesimpulan
            Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dalam penelitian mengenai “Persepsi Pemustaka dan Pustakawan Terhadap Layanan Mandiri dalam Peminjaman dan Pengembalian Koleksi di Perpustakaan Nasional RI berbasis RFID” maka dapat diperoleh kesimpulan sebagai berikut:
  1. Bahwa pemustaka merasa terbantu, lebih mudah dan praktis dalam menggunakan layanan mandiri.
  2. Dalam penerapannya di perpustakaan pemustaka pada umumnya tidak merasa kesulitan, karena menu yang ditampilkan mudah dan bisa memilih dua bahasa.
  3. Dalam penerapannya di perpustakaan terbuka, RFID yang digunakan adalah jenis LIBRA. Dengan adanya RFID, proses sirkulasi menjadi semakin efisien. Selangkah lebih maju dari teknologi sebelumnya barcode,  saat mengidentifikasi data RFID tidak harus menggunakan garis baca, selama ada frekuensi RFID maka data akan terbaca. Selain pada bagian layanan, RFID juga sangat bermanfaat dalam memberikan keamanan pada koleksi dengan alarm yang terpasang pada koleksi. Tetapi sebaliknya, pada bagian pengolahan RFID merupakan pekerjaan yang bertambah.
  4. Terdapat pula kendala-kendala yang akan dihadapi perpustakaan dalam menerapkan pelayanan mandiri, karena setiap teknologi pasti mempunyai kelemahan. Diantaranya RFID itu lemah terhadap metal. Karena metal adalah pemblok, jadinya dapat menghalangi frekuensi. Jadi, jika ada metal di sekitar area frekuensi RFID, maka frekuensi pada label akan terblok sehingga reader tidak dapat membaca.
  5. Peminjaman dengan LIBRA self check kurang efektif, karena peraturan administrasi jika meminjam buku lebih dari tiga eksemplar harus meninggalkan kartu identitas, tetapi lewat mesin LIBRA self check tidak akan terdeteksi.

DAFTAR PUSTAKA

Darmono. 2007. Perpustakaan Sekolah : Pendekatan Aspek Manajemen dan Tata Kerja. Jakarta : Grasindo.

_____________. 2010. LIBRA Manual Book. Jakarta: Radika Karya Utama.

Lasa Hs. 2009. Kamus Kepustakawanan Indonesia. Yogyakarta: Pustaka Book Publisher.


Martoatmojo, Karmidi. 2009. Pelayanan Bahan Pustaka. Jakarta: Universitas Terbuka.

Masyhuri dan M. Zainuddin. 2009. Metodologi Penelitian : Pendekatan Praktis dan Aplikatif. Bandung: Refika Aditama.

Saputra, Romi Febriyanto. 2008. Artikel: Revolusi Layanan Perpustakaan Nasional RI Berbasis Teknologi Informasi. Jakarta: Pusat Jasa Perpustakaan dan Informasi.

Subagyo, Joko. 1997. Metode Penelitian : Dalam Teori dan Praktik. Jakarta: Rineka Cipta.

Sukandarrumidi dan Haryanto. 2008. Dasar-dasar Penulisan Proposal Penelitian. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.


Supriyanto, Wahyu dan Ahmad Muhsin. 2008. Teknologi Informasi Perpustakaan. Yogyakarta: Kanisius.

Widjajanti, Ari dan Yuniwati. 2009. Undang-undang : Serah Simpan Karya Cetak dan Karya Rekam.  Semarang: Universitas Diponegoro Semarang.

Tidak ada komentar: