BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar
Belakang
Keberadaan perpustakaan tidak bisa dipisahkan dari
peradaban dan budaya umat manusia. Perpustakaan merupakan suatu organisasi yang
senantiasa berkembang untuk mengikuti perkembangan dan perubahan yang terjadi
di masyarakat.
Terjadinya perubahan pola pikir tentang
perpustakaan, yaitu penyediaan koleksi yang dimiliki ke arah konsep dalam
memberikan informasi, telah menjadikan jalinan kerjasama antar perpustakaan
dalam menampilkan koleksi yang dapat memudahkan penyampaian informasi.
Suatu perpustakaan agar memudahkan
pemustaka dalam temu kembali informasi hendaknya menggunakan suatu sistem yang terintegrasi. Mulai dari
pengadaan, pengolahan sampai kepada pelayanan. Pengolahan koleksi sebaiknya didasarkan
menurut sistem klasifikasi tertentu.
Beberapa sistem klasifikasi di atas diantaranya Library Congress Classification (LCC), Universal Decimal Classification (UDC), Dewey Decimal Classification (DDC), National Technical Information Services (NTIS), dan lainnya.
Perpustakaan-perpustakaan di Indonesia
pada umumnya menggunakan DDC terutama untuk perpustakaan umum, sedangkan UDC
digunakan oleh perpustakaan khusus yang
memfokuskan diri pada bidang tertentu. Perpustakaan yang menggunakan sistem
klasifikasi DDC diantaranya adalah Badan Arsip dan Perpustakaan Daerah Jawa
Tengah, Arsip dan Perpustakaan Kota Semarang.
Selain DDC dan UDC ada sistem klasifikasi yang lainnya yang dinamakan
NTIS (National Technical Information
Services), untuk penulisan selanjutnya penggunaan istilah National Technical Information Services disingkat
NTIS.
Badan Pengkajian dan Penerapan
Teknologi, yang selanjutnya disingkat BPPT adalah lembaga pemerintah non kementerian
yang berada di bawah koordinasi Kementerian Negara Riset dan Teknologi namun
bertanggung jawab langsung kepada Presiden Republik Indonesia, bertugas
melaksanakan sebagian urusan pemerintah pusat di bidang pengkajian dan
penerapan teknologi.
Perpustakan BPPT merupakan salah satu
unit kerja dari Pusat Data, Informasi, Standarisasi (PDIS) yang bertugas
melakukan pengumpulan, pengolahan dan pelayanan bahan pustaka serta
pemasyarakatan hasil kaji terap teknologi BPPT.
Kegiatan yang dilakukan secara rutin
oleh perpustakaan bervariasi. Variasi tergantung kepada jenis perpustakaan dan
ruang lingkup organisasinya. Kegiatan tersebut mulai dari pengadaan, pengolahan
sampai pada layanan. Sebelum dilayankan pada pemustaka, seluruh koleksi harus
diolah agar pemustaka lebih mudah dalam menemukannya. Pengolahan koleksi
merupakan proses penyiapan koleksi untuk dapat dilayankan pada pengguna
(Rahayuningsih, 2007: 35). Pengolahan bahan pustaka tersebut diantaranya
inventarisasi, klasifikasi, katalogisasi, memberikan label, dan penyusunan
kartu katalog.
Salah satu kegiatan pengolahan
diantaranya adalah klasifikasi. Menurut Yulia (2010,4.18) Klasifikasi merupakan
proses pengelompokkan yaitu mengumpulkan benda yang sama serta memisahkan benda
yang tidak sama. Penggunaan klasifikasi akan memudahkan kita dalam penelusuran
terhadap benda-benda yang ingin kita peroleh secara cepat dan tepat.
Benda-benda yang diklasifikasikan di perpustakaan adalah bahan pustaka yang merupakan
koleksi perpustakaan.
Pada
umumnya sistem klasifikasi yang digunakan oleh perpustakaan adalah hanya
menggunakan satu sistem klasifikasi, tetapi di Perpustakaan BPPT menggunakan
dua sistem klasifikasi yaitu NTIS dan DDC.
Dalam
label koleksi dan penelusuran melalui OPAC, muncul sistem klasifikasi NTIS, sehingga NTIS
digunakan terutama untuk pemustaka. Sedangkan sistem klasifikasi DDC
digunakan untuk pihak internal,
kerjasama antar perpustakaan. Pada awalnya DDC digunakan sejak berdirinya Perpustakaan
BPPT sampai pada tahun 1982, dan pada tahun 1983 selanjutnya diubah menjadi
sistem klasifikasi NTIS. Namun pada kenyataannya sistem DDC mulai digunakan kembali
dari tahun 2010 sampai sekarang, tetapi DDC hanya digunakan sebagai penerusan
dari sistem terdahulu, dan yang dipakai untuk penelusuran melalui OPAC dan
label, termasuk katalog juga sistem klasifikasi NTIS.
Penggunaan
kedua sistem klasifikasi tersebut memang berbeda. Sistem klasifikasi NTIS
digunakan untuk penelususran melalui OPAC serta penggunaan label buku,
sedangkan untuk DDC digunakan kembali karena alasan untuk kerjasama
perpustakaan yaitu pertukaran data koleksi. Penggunaan kedua sistem klasifikasi
tersebut memang diperlukan karena sistem klasifikasi NTIS pada umumnya banyak
mencakup kelas utama mengenai teknologi, yang sesuai dengan lembaga induk BPPT.
Dalam
bidang perpustakaan klasifikasi
merupakan penyusunan secara sistematik terhadap buku dan bahan pustaka lain
dalam cara yang berguna agar memudahkan dalam pencarian informasi. Pedoman yang
dipakai dalam klasifikasi dipilih salah satu skema tertentu, dan biasanya hanya
menggunakan satu sistem klasifikasi, namun di Perpustakaan BPPT menggunakan dua
sistem dalam pengolahan koleksi.
Penggunaan
klasifikasi yang tepat dan konsisten, sangat membantu pemakai dalam mencari dan
menemukan informasi yang diperlukan. Dalam setiap penggantian sistem
klasifikasi tentunya merubah pola dari satu sistem ke sistem lainnya. Sehingga
hal tersebut merupakan salah satu alasan
mengapa perpustakaan menggantikan sistem dari DDC ke sistem klasifikasi NTIS.
Perpustakaan
Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi, untuk selanjutnya digunakan istilah
BPPT menggunakan sistem pengklasifikasian koleksi dengan menggunakan NTIS
dalam pelabelan, serta Dewey
Decimal Classification yang selanjutnya digunakan istilah DDC sebagai
pertukaran sistem metadata perpustakaan.
NTIS
merupakan database
lembaga di Departemen Perdagangan Amerika Serikat yang berfungsi sebagai
repository pemerintah Amerika Serikat untuk hasil penelitian dan pengembangan
serta informasi lainnya yang dihasilkan oleh dan untuk pemerintah serta
berbagai sumber publik dan swasta seluruh dunia. Sistem klasfikasi ini dikembangkan tahun 1950,
dalam klasifikasi NTIS membagi kedalam 39 kelas utama. Sementara DDC dikembangkan
sejak tahun 1873 oleh seorang pustakawan di Amherst College, Massachusussets
negara bagian di Amerika Serikat, yang benama Melvil Dewey (Yulia, 2010: 4.23).
Mengetahui
hal mengenai penggunaan sistem klasifikasi NTIS dan DDC di Perpustakaan BPPT
Jakarta, apakah memudahkan pengolahan koleksi di Perpustakaan BPPT dan mengetahui
bagaimana tingkat efektifitas penggunaannya dari segi fungsi klasifikasi NTIS
dan DDC tersebut. Peneliti tertarik dan ingin mengetahui lebih jauh mengenai
efektifitas penggunaan sistem klasifikasi NTIS dan DDC terhadap pengolahan koleksi
di Perpustakaan BPPT Jakarta.
1.2
Rumusan
Masalah
Berdasarkan latar
belakang di atas, maka dapat dirumuskan beberapa hal yang mungkin dapat
dijadikan dasar pelaksanaan penelitian, yaitu:
1.
Bagaimana
penggunaan notasi antara sistem klasifikasi NTIS dan DDC?
2.
Bagaimana
penggunaan indeks antara sistem
klasifikasi NTIS dan DDC?
3.
Bagaimana
tingkat efektifitas dalam hal keringkasan dan kecepatan penelusuran notasi?
4.
Bagaimana
tingkat efektifitas dalam penggunaan sistem klasifikasi NTIS dan DDC?
1.3
Waktu dan
Tempat Penelitian
a.
Waktu Penelitian
Waktu untuk penelitian dalam pembuatan
skripsi ini ± 1 bulan, terhitung mulai pertengahan bulan Desesmber 2011 sampai dengan
Januari 2012, berupa kegiatan wawancara mendalam kepada informan, yaitu
pustakawan/staff yang bekerja pada bagian pengadaan dan pengolahan bahan
pustaka di Perpustakaan BPPT Jakarta serta observasi untuk mendapatkan data
yang relevan.
b.
Tempat Penelitian
Tempat penelitian yaitu di Perpustakaan Badan
Pengkajian dan Penerapan Teknologi. Pusat Data, Informasi dan Standardisasi
BPPT. Alamat:
Jl. M.H. Thamrin No. 8 Jakarta Pusat.
1.4
Tujuan
Penelitian
Berdasarkan sajian paparan
permasalahan di atas, akhirnya dapat disajikan tujuan yang hendak dicapai dari
penelitian ini, yaitu:
1.
Mengetahui
bagaimana penggunaan notasi antara sistem klasifikasi NTIS dan DDC.
2.
Mengetahui
bagaimana penggunaan indeks antara
sistem klasifikasi NTIS dan DDC.
3.
Mengetahui
bagaimana tingkat efektifitas dalam hal keringkasan dan kecepatan penelusuran notasi.
4.
Mengetahui
bagaimana tingkat efektifitas dalam penggunaan sistem klasifikasi NTIS dan DDC.
1.5
Manfaat
Penelitian
Adapun
manfaat dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
1.
Manfaat bagi penulis
a.
Dapat mengetahui mengenai
perbandingan efektifitas penggunaan sistem klasifikasi NTIS dan DDC terhadap
pengolahan koleksi.
b.
Sebagai salah satu syarat
untuk menyelesaikan studi pada program studi S1 Ilmu Perpustakaan.
2.
Manfaat bagi perpustakaan
Dapat dijadikan masukan bagi
perpustakaan sebagai alat untuk mengevaluasi mengenai kebijakan penggunaan di perpustakaan serta efektifitas penggunaan
sistem klasifikasi NTIS dan DDC agar lebih baik lagi dari segi pelayanan, dan
pengolahan bahan pustaka.
3.
Manfaat bagi pembaca
Manfaat bagi pembaca adalah
sebagai pengetahuan mengenai sistem klasifikasi DDC dan NTIS di Perpustakaan
BPPT Jakarta dan mengetahui perbandingan dari kedua sistem klasifikasi
tersebut.
4.
Manfaat bagi dunia
perpustakaan
Dapat dijadikan pengetahuan mengenai hasil
dari perbandingan kedua sistem yaitu sistem klasifikasi NTIS dan DDC serta
mengetui kelebihan dan kelemahan masing-masing. Dalam sistem klasifikasi NTIS
di dunia perpustakaan merupakan hal yang baru, jadi manfaat bagi dunia
perpustakaan adalah bisa menjadikan sistem klasifikasi NTIS sebagai sistem
klasifikasi di perpustakaan terutama untuk Perpustakaan yang khusus yang
berkenaan dengan teknologi dan riset.
1.6
Penerapan
Teori
Pada penelitian ini, perpustakaan khusus
sebagai objek penelitian. Objek penelitian yang diamati yaitu Perpustakaan BPPT
Jakarta. Pustakawan/staff yang diamati merupakan bagian dari sub bidang
pengadaan dan pengolahan bahan pustaka. Sub bidang pengadaan dan pengolahan merupakan
salah satu dari sub bidang lainnya yang memang mendukung dengan permasalahan
yang diambil. Pada bagian pengolahan menggunakan dua sistem klasifikasi yaitu
sistem klasifikasi NTIS dan DDC.
Gambar 1: Kerangka Berpikir
Penelitian
(Sumber: Data Primer
Peneliti, 2012)
1.7
Sistematika
Penulisan
Sistematika penulisan skripsi ini sebagai berikut,
Bab I : Pendahuluan,
menyajikan latar belakang, rumusan masalah, waktu dan tempat penelitian, tujuan
penelitian, manfaat penelitian, penerapan teori, dan sistematika penulisan.
Bab II : Tinjauan
literatur, menyajikan perpustakaan, perpustakaan khusus, efektivitas
perpustakaan, pengolahan koleksi, sistem klasifikasi NTIS, dan sistem
klasifikasi DDC.
Bab II : Metode
penelitian, menyajikan jenis dan metode penelitian, karakteristik penelitian
kualitatif, informan kunci, jenis dan sumber data, teknik pengumpulan data,
teknik pengolahan data, teknik analisis data.
Bab IV : Gambaran
umum Perpustakaan BPPT, menyajikan sejarah Perpustakaan BPPT, visi dan misi
Perpustakaan BPPT, struktur organisasi Perpustakaan BPPT, kegiatan dan fungsi
Perpustakaan BPPT.
Bab V : Pembahasan
dan alaisis data, menyajikan karakteristik informan kunci, analisis
perbandingan notasi klasifikasi, dan analisis terhadap pengolahan.
Bab VI : Penutup,
berisi simpulan dan saran.
BAB
II
TINJAUAN
LITERATUR
2.1
Perpustakaan
Perpustakaan dalam bahasa Arab disebut maktabah, bibliotheca (bahasa Italia), bibliotheque (bahasa Perancis), bibliothek
(bahasa Jerman), bibliotheek (bahasa
Belanda). Perpustakaan merupakan sistem informasi yang dalam prosesnya terdapat
aktivitas pengumpulan, pengolahan, pengawetan, pelestarian,dan penyajian (Lasa,
2009: 262). Bahan informasi tersebut meliputi bahan cetak maupun non cetak.
Perpustakaan merupakan tempat menyimpan, mengolah dan mencari informasi,
dimana informasi tersebut dapat berbentuk bahan bacaan tercetak (buku, jurnal,
referensi, dan bahan pustaka tercetak lainnya) maupun bahan bacaan dalam bentuk
elektronik (electronic book, electronic
jurnal, dan bahan bacaan bentuk elektronik lainnya)(Saleh dan Komalasari,
2009: 1.4).
Dari definisi di atas dapat disimpulkan bahwa
perpustakaan merupakan tempat, gedung atau ruangan yang berisi informasi
tercetak maupun non cetak yang dapat digunakan untuk bacaan, studi ataupun
rujukan yang dikelola dengan sistem tertentu yang dapat dipergunakan oleh
siapapun dan sumber informasi tersebut bukan untuk di jual.
Setiap perpustakaan didirikan dengan tujuan tertentu
yang dilandasi sesuai dengan misinya. Oleh karena itu, organisasi,
kegiatan-kegiatan, dan anggotanya berbeda-beda. Maka dari itu timbul penyebab
adanya berbagai jenis perpustakaan dan fungsi yang berbeda-berbeda.
Faktor-faktor lainnya yang mempengaruhi timbulnya
jenis perpustakaan adalah:
1.
Munculnya berbagai
jenis media informasi, seperti media tercetak (buku, majalah, surat kabar) dan media grafis/elektronik,
seperti film, foto, microfilm dan video)
2.
Adanya berbagai
kelompok pembaca dalam masyarakat, misalnya anak-anak, pelajar, mahasiswa, ibu
rumah tangga, remaja putus sekolah, dll.
3.
Adanya perbedaan
minat serta derajat kedalaman informasi yang dibutuhkan pengguna walaupun
mengenai subyek yang sama
4.
Adanya ledakan
informasi, yakni pertumbuhan bahan pustaka yang cepat dan sangat banyak,
sehingga tidak memungkinkan sebuah perpustakaan memiliki semuanya.
Pengertian lain
mengenai persyaratan perpustakaan yaitu sebagai berikut.
1.
Adanya kumpulan
bahan pustaka (buku, majalah, buku rujukan) dalam jumlah tertentu, dalam bentuk
tercetak maupun elektronik/digital
2.
Bahan pustaka yang
ada harus ditata berdasarkan sistem yang berlaku, diolah dan diproses
(registrasi, klasifikasi, katalogisasi, dan di data) baik secara manual ataupun
dengan cara konvensional
3.
Bahan pustaka yang
telah diolah dan diproses tadi, harus ditempatkan di ruangan tertentu yang kita
kenal dengan istilah perpustakaan.
4.
Perputaran/sirkulasi
bahan pustaka harus dikelola oleh petugas yang professional yang mempunyai
kemampuan mengelola peredaran bahan pustaka baik secara manual maupun yang
sudah terotomasi.
5.
Ada pengguna perpustakaan, yang memanfaatkan koleksi bahan pustaka untuk
kepentingan ilmu pengetahuan, penelitian, observasi, dan hal lainnya yang
berkaitan dengan belajar dan menimba ilmu.
6.
Perpustakaan
merupakan institusi yang menunjang Tridarma perguruan tinggi, bagi universitas
ataupun institute, dan merupakan mitra bagi lembaga-lembaga lainnya baik yang
formal maupun informal.
(Saleh dan Komalasari,
2009: 1.5).
2.2
Perpustakaan Khusus
Perpustakaan khusus adalah perpustakaan yang mengkhususkan diri dalam
subyek koleksi bidang tertentu saja, misalnya bidang hukum, bidang musik,
bidang teologi, dan sebagainya (Rahayuningsih, 2007: 5).
Perpustakaan khusus berada pada instansi atau
lembaga tertentu, baik pemerintah maupun swasta, dan sekaligus sebagai
pengelola dan penanggung jawabnya. Tugas pokoknya melayani pemakai dari kantor
yang bersangkutan, sehingga koleksinya juga relatif terbatas yang berkaitan
dengan misi dan tugas lembaga tersebut (Sutarno, 2006: 38).
Ciri-ciri perpustakaan khusus
antara lain adalah:
a. Memiliki koleksi yang terbatas pada satu atau
beberapa subjek.
b. Memiliki informasi yang luas dan mendalam dalam
bidang kekhususannya itu.
c. Keanggotaan perpustakaan khusus biasanya terbatas,
yaitu orang-orang yang berminat atau berkarya dalam bidang subjek koleksi
perpustakaan itu.
d. Ukuran perpustakaan khusus relatif kecil dan jumlah
koleksinya relatif sedikit.
(Rahayuningsih,
2007: 5-6).
Tujuan didirikannya perpustakaan khusus biasanya
untuk mendukung instansinya dengan cara menyediakan informasi bagi pegawai di
lingkungan instansi tersebut guna memelihara dan meningkatkan pengetahuan
pegawai yang bersangkutan (Saleh, 2009: 1.16). Oleh karena itu, koleksi yang
ada biasanya terbatas dan hanya berkaitan dengan misi dan tugas lembaga yang
bersangkutan. Perpustakaan khusus memiliki koleksi, pengelolaan, serta
pemakainya yang sangat terbatas. Karena
adanya keterbatasan maka hendaknya perpustakaan melakukan kerjasama dengan
berbagai pihak untuk meningkatkan layanan pada pemustaka dan dilakukan dalam bentuk
dengan memanfaatkan sistem jejaring perpustakaan yang berbasis teknologi
informasi dan komunikasi (UU No.43/2007 Pasal 42 ayat 1-3).
Perpustakaan BPPT telah memenuhi syarat dari
keterangan yang dikemukakkan di atas, dan juga Perpustakaan BPPT merupakan
lembaga yang menyediakan informasi baik terceak maupun digital yang diolah
menurut sistem tertentu dipergunakan oleh masyarakat BPPT khususnya dan
masyarakat luas pada umumnya.
Perpustakaaan BPPT merupakan perpustakaan khusus,
sebaiknya melakukan kerjasama baik itu kerjsama dalam bentuk koleksi maupun
kerjasama pertukaran data koleksi. Kerja sama dan peran serta masyarakat adalah:
1. Perpustakaan melakukan kerjasama dengan berbagai pihak untuk
meningkatkan layanan kepada pemustaka.
2. Peningkatan layanan kepada pemustaka sebagaimana dimaksudkan pada
ayat (1) bertujuan untuk meningkatkan jumlah pemustaka yang dapat dilayani dan
meningkatkan mutu layanan perpustakaan.
3. Kerja sama sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan peningkatan
layanan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilakukan dengan memanfaatkan sistem
jejaring perpustakaan yang berbasis teknologi informasi dan komunikasi.
(UU No. 43 Tahun 2007 Pasal 42
ayat 1-3)
2.3
Efektifitas Perpustakaan
Efektifitas adalah melakukan
pekerjaan yang benar/doing the right
things. Agar efektif dan efisien dalam mengkomunikasikan informasi, jasa
dan fasilitas perpustakaan kiranya perlu memperhatikan 1). Keterbukaan; 2).
Empati; 3). Dukungan; 4). Sikap positif, dan 5). Kesetaraan.
(Lasa,
2009: 73).
Kualitas
pelayanan informasi suatu perpustakaan sulit diketahui dengan pasti/exact karena belum adanya standar yang
disepakati dalam penilaian mutu pelayanan dan fungsinya. Sarana evaluasi yang
ada, masih dianggap belum mampu mencerminkan masalah yang ada, baik secara
kualitatif maupun kuantitatif.
2.4
Pengolahan Koleksi
Pengolahan dilakukan sebelum
koleksi dilayankan pada pemustaka. Kegiatan kerja pengolahan meliputi:
2.4.1
Inventarisasi
Inventarisasi
adalah kegiatan:
a. Mencatat setiap eksemplar buku dalam buku induk
b. Memberi nomor induk/inventaris setiap eksemplar buku dan mencatatnya
dalam buku yang bersangkutan
c. Majalah lepas dicatat dalam kartu majalah agar mudah diketahui volume dan
nomor edisi yang diterima
d. Majalah yang dijilid diperlakukan sebagai buku
e. Memberi cap/setempel milik pada setiap buku, pada halaman tertentu yang
telah ditentukan sebelumnya.
Menurut Rahayuningsih (2007: 36) kumpulan catatan dalam bentuk matriks
mengenai identitas yang dimiliki oleh perpustakaan pada umumnya mencatat
hal-hal sebagai berikut:
a. Tanggal pemesanan
b. Tanggal penerimaan
c. Tanggal pembayaran
d. Tanggal inventaris
e. Nomor inventaris
f. Judul
g. Pengarang
h. Edisi
i.
Kota terbit
j.
Penerbit
k. Tahun terbit
l.
Jumlah
eksemplar
m. Bahasa
n. Asal
o. Harga satuan
p. Keterangan
Sebelum pencatatan data, perlu juga dilakukan
hal-hal sebagai berikut
a.
Pemberian cap perpustakaan
Cap perpustakaan merupakan cap resmi
perpustakaan sebagai pemilik koleksi
b.
Pemberian cap inventaris
Cap inventaris adalah cap yang memuat
keterangan tentang nama instansi, tanggal, nomor inventaris.
c.
Pemberian nomor inventaris
Nomor inventaris merupakan serangkaian
kode yang terdiri dari angka, atau campuran huruf, yang dibuat untuk
menunjukkan identitas setiap koleksi
yang dimiliki perpustakaan.
d.
Pencatatan ke dalam basis data inventaris
Kegiatan pencatatan ke dalam basis data
inventaris merupakan proses memasukkan nomor inventaris ke dalam basis data
inventaris.
(Rahayuningsih,
2007: 37-39).
2.4.2 Katalogisasi
Katalogisasi merupakan
proses pembuatan daftar keterangan lengkap suatu koleksi yang disusun berdasar
aturan tertentu (Rahayuningsih, 2007: 43).
Katalogisasi mencakup dua hal pokok, yaitu katalogisasi subjek dan
katalogisasi deskriptif.
a.
Katalogisasi subjek
Katalogisasi subjek
biasanya dikaitkan dengan tajuk subjek, maupun dengan klasifikasi. Subjek yang
telah ditentukan tersebut akan menjadi patokan untuk mencari tajuk subjek pada
pedoman tajuk subjek.
b.
Katalogisasi deskriptif
Katalogisasi deskriptif
berarti menyediakan informasi bibliografis pada berkas katalog
(Sulistyo-Basuki, 1991).
Katalog perpustakaan baik
dalam bentuk digital maupun nondigital memuat bagian-bagian sebagai berikut:
a. Nomor panggil (call
number)
Nomor panggil
merupakan kesatuan kode yang terdiri dari notasi klasifikasi, tiga huruf
pengarang, satu hurup judul.
b. Tajuk (heading)
Tajuk merupakan
titik akses pertama pada katalog ketika mencari koleksi perpustakaan.
c. Informasi bibliografi
Informasi
bibliografi adalah data-data terbitan suatu bahan pustaka.
d. Jejakan (tracing)
Jejakan adalah sebuah
cantuman acuan yang berupa nama atau judul dari sebuah bahan pustaka yang
disajikan dalam katalog.
(Rahayuningsih, 2007:
72-73).
Setelah kegiatan katalogisasi selesai, selanjutnya memberi
kelengkapan pada buku, sehingga siap dilayankan kepada pengguna. Kelengkapan yang perlu disiapkan antara lain:
a.
Label nomor
panggil
Label nomor panggil yaitu lembaran kertas persegi dengan ukuran
tertentu untuk keperluan mencantumkan nomor panggil yang ditempelkan pada
punggung buku (Rahayuningsih, 2007: 74).
b.
Kartu buku
Kartu buku berfungsi sebagai kendali terhadap sirkulasi buku. Dri
kartu buku dapat diketahui beberapa hal, yaitu:
a. Apakah buku ada dalam
pinjaman dan jika dalam kondisi pinjam, kapan seharusnya dikembalikan.
b. Berapa
kali buku tersebut dipinjam dalam waktu tertentu misalnya setiap enam bulan atau
setiap tahun.
c. Kantong buku
Kantong buku berfungsi untuk menyimpan kartu buku jika
buku dalam kondisi tidak sedang dipinjamkan. Untuk menjaga kesesuaian antara
kartu buku dan pengembalian buku, maka pada kantong buku diberi identitas
sebagai berikut:
1. Nomor panggil
2. Tajuk entri
utama
3. Judul buku
4. Nomor induk buku
d. Slip
tanggal kembali
Slip tanggal kembali berfungsi untuk:
1. Mengingatkan kepada peminjam
kapan buku harus dikembalikan
2. Mengetahui berapa kali buku tersebut dipinjam.
e. Barcode
Barcode
yaitu kode-kode yang menunjukkan data bibliografi
buku. Digunakan oleh perpustakaan yang pelayan sirkulasinya sudah menggunakan
sistem barcode.
(Yulia dan B.
Mustafa, 2010: 8.7-8.10).
Charles
Ami Cutter (Needham, 1971) sebagaimana dikutip oleh Yulia (2010: 1.13)
merumuskan bahwa tujuan katalog adalah
1.
Untuk memungkinkan pengguna
menemukan bahan pustaka, jika yang diketahui dari bahan pustaka itu adalah:
a.
Nama pengarang,
b.
Judul,
c.
Subjek.
2. Untuk menunjukkan karya-karya yang dimiliki
perpustakaan
a. Oleh pengarang tertentu,
b. Mengenai subjek tertentu,
c. Dalam jenis (atau bentuk) literature tertentu.
3. Untuk membantu dalam pemilihan buku dari segi
a. Edisinya,
b. Karakternya.
2.4.3 Klasifikasi
klasifikasi
adalah penggolongan atau pengelompokan buku berdasarkan subyek atau isi buku
yang bersangkutan (Yusup, 2005: 40).
Secara umum klasifikasi terbagi
dalam dua jenis, yaitu
a. Klasifikasi Artifisial (artificial
classification)
Klasifikasi
artificial yaitu mengklasifikasi bahan pustaka berdasarkan sifat-sifat yang
kebetulan ada pada bahan pustaka tersebut. Sebagai contoh pengklasifikasian
berdasarkan warna kulit buku, atau ukuran tinggi buku, judul buku, atau
pengarang buku (Yulia, 2010: 4.18).
b. Klasifikasi Fundamental (fundamental
classification)
Klasifikasi
bahan pustaka berdasarkan isi atau subyek buku, yaitu sifat yang tetap pada
bahan pustaka meskipun kulitnya berganti-ganti atau formatnya diubah (Suwarno,
2007: 66).
Tujuan klasifikasi Bahan Pustaka adalah
1.
Menghasilkan urutan yang
bermanfaat
Penempatan yang tepat
2.
Penyusunan mekanis
3.
Tambahan dokumen baru
4.
Penarikan dokumen dari rak
(Yulia, B.Mustafa, 2010: 4.19-4.20).
Cara menggolongkan atau
mengklasifikasikan buku terdapat dua langkah yaitu:
a.
Menetapkan Subjek Buku
klasifikasi
yang umum digunakan pada perpustakaan sekarang ini yaitu klasifikasi
fundamental. Analisis subyek merupakan hal yang sangat penting dan memerlukan kemampuan intelektual, karena
disinilah bahan pustaka ditentukan tempatnya dalam golongannya (Suwarno, 2006:
67). Tiga bagian besar analisis subjek adalah pada disiplin ilmu, yaitu buku
yang dianalisis harus masuk ke dalam disiplin ilmu tertentu; objek bahasan atau
fenomena, yaitu setelah ditemuka disiplin ilmu tertentu buku tersebut harus
jelas membahas tentang suatu kajian atau fenomena tertentu.
b.
Menentukan Nomor Klasifikasi
subyek
dari buku yang telah ditentukan, maka langkah berikutnya adalah menentukan
nomor klasifikasi.
Dalam menentukan sistem klasifikasi yang akan digunakan di perpustakaan,
maka perlu dilihat terlebih dahulu sistem klasifikasi tersebut. Sistem klasifikasi harus mempunyai ciri-ciri
sebagai berikut:
a.
Bersifat Universal
Suatu
bagan klasifikasi yang baik adalah bersifat universal, yaitu meliputi
seluruh bidang ilmu pengetahuan, dengan
demikian berbagai pihak dari berbagai disiplin ilmu dapat menggunakan system
klasifikasi tersebut.
b. Pembagian kelasnya logis dan konsisten
Bagan
klasifikasi yang baik adalah terinci dalam membagi bidang-bidang ilmu pengetahuan.
c. Luwes (flexible)
Ilmu
pengetahuan senantiasa berkembang, maka dari itu susunan bagan hendaknya luwes
selalu dapat menampung subjek yang baru tanpa merusak bagan yang sudah ada.
d.
Mempunyai notasi yang sederhana
Bagan hendaknya menggunakan notasi
(kode/lambang) yang mudah diingat.
e. Sistematis
Susunan
bagan klasifikasi yang baik menggunakan sistem tertentu agar memudahkan bagi
para pemakainya.
f.
Mempunyai Indeks
Indeks
merupakan suatu daftar kata atau istilah yang disusun secara sistematis,
masing-masing mengacu ke suatu tempat.
g.
Mempunyai Badan Pengawas
Suatu sistem
klasifikasi yang baik mempunyai satu badan yang bertugas memantau dan mengawasi
perkembangan badan klasifikasi sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan.
(Yulia dan B.Mustafa, 2010: 4.21 – 4.22).
Dalam menentukan nomor klasifikasi, classifier terlebih dahulu
menentukan subyek yang terdapat dalam koleksi tersebut. Langkah-langkah untuk
menentukan subyek diantaranya adalah:
1. Judul
buku kadang-kadang dengan mudah memberikan petunjuk tentang apa isinya
2. Daftar
isi sebuah buku, apalagi yang cukup terperinci biasanya merupakan petunjuk yang
dapat dipercaya
3.
Apabila dari daftar isi tidak
jelas, atau tidak ada daftar isi, bibliografi atau sumber yang dipakai untuk
menyusun buku itu dapat memberikan petunjuk yang bermanfaat.
4.
Bacalah sepintas lalu kata
pengantar atau pendahuluan buku itu yang biasanya memberikan informasi tentang
sudut pandangan penulis tentang subyeknya ruang lingkup persoalannya, untuk
pembaca yang bagaimana buku itu ditulis dan keterangan lain yang berguna untuk
mengklasirnya.
5.
Apabila keempat langkah tersebut
di atas belum memadai untuk menentukan subyek buku itu, maka kita terpaksa
membaca sebagian teks buku itu atau mencari sumber informasi lain seperti
bibliografi katalog penerbit, timbangan buku pada majalah ilmiah dan buku referensi
lainnya, bahkan meminta pertolongan dari orang yang ahli.
(Hamakonda, 2008: 15-16).
Dalam mengklasifikasi bahan
pustaka, terkadang antar classifier satu
dengan yang lainnya menghasilkan notasi kelas yang berbeda. Hal ini bisa
terjadi karena memang adanya penggunaan pedoman
yang berbeda. Misalnya antara DDC edisi ringkas dengan DDC edisi
lengkap, terlebih apabila ada pergantian edisi baru. Dalam setiap penggantian
ke buku pedoman baru pustakawan dituntut untuk segera menyesuaikan setiap
notasi kelas dengan cara pemeliharaan katalog perpustakaan. Pustakawan harus
proaktif menghadapi segala kemungkinan yang setiap saat terjadi di perpustakaan
baik terhadap bahan pustaka, aspek penentuan notasi kelas, tata ruang, kemanan,
teknologi informasi serta tuntutan pemustaka yang dinamis (Triyono, 2010: 49).
2.4.4 Tajuk Subjek
Tajuk subjek adalah terjemahan dari istilah subject heading. Dalam ALA
Glossary of Library and Information Science (1983) subject heading didefinisikan sebagai berikut:
An access point to a bibliographic
record, consisting of a word or phrase which designates the subject of the work
(s) contained in the bibliographic item.
Dari definisi di atas dapat diartikan bahwa tajuk subjek adalah sebuah
titik akses untuk sebuah cantuman bibliografi yang berisi kata atau frasa
mengenai subjek dari sebuah karya yang dimuat dalam sebuah bibliografi karya
tersebut (Yulia dan B.Mustafa, 2010: 7.3).
Definisi lain menyebutkan bahwa tajuk subjek adalah suatu kata atau
kelompok kata yang menunjukkan suatu subjek, berfungsi untuk menempatkan suatu
dokumen dengan tema yang sama ke dalam satu jajaran katalog atau bibliografi
(Lasa, 2009: 330).
Dari definisi di atas dapat disimpulkan bahwa tajuk subjek merupakan kata
atau kelompok kata yang menunjukan subjek yang mempunyai isi/materi yang sama.
Ada beberapa prinsip yang perlu diperhatikan dalam penyusunan tajuk
subjek, yaitu:
1.
Tajuk subjek untuk keperluan
pengguna
Penyediaan sarana temu kembali informasi, perlu kita memperhatikan
kepentingan pengguna.
2.
Satu istilah untuk semua
Tajuk subjek merupakan istilah yang bersifat baku, artinya satu kata atau
istilah yang dipilih untuk suatu subjek berlaku untuk semua buku yang mempunyai
subjek sama, sekalipun satu buku dengan lainnya berbeda-beda dalam menggunakan
istilah untuk subjek tersebut.
3. Penggunaan istilah yang biasa digunakan
Dalam memilih istilah untuk tajuk subjek, kita harus mengutamakan
penggunaan istilah yang biasa digunakan dalam masyarakat.
4.
Penggunaan istilah yang spesifik
Penggunaan istilah dalam tajuk subjek, kita harus memilih istilah yang
spesifik dan bukan memilih istilah yang mempunyai cakupan umum.
5.
Jumlah tajuk subjek untuk setiap
buku
Dalam
menentukan tajuk subjek yang akan dibuat untuk setiap buku, tidak ada ketentuan
yang pasti. Tetapi ada beberapa faktor yang perlu dipertimbangkan, antara lain:
a. masyarakat pemakai, jika
masyarakat pemakai banyak memerlukan informasi untuk penelitian, maka akan
diperlukan tajuk subjek lebih lengkap dibandingkan dengan perpustakaan taman
kanak-kanak.
b. faktor ekonomi, jika karena
keterbatasan biaya terpaksa membatasi jumlah penyediaan katalog, kemungkinan
pembuatan tajuk subjek perlu dibatasi.
6.
Penggunaan penunjukan
Beragamnya penggunaan istilah
dan jenis serta tingkatan masyarakat pemakai perpustakaan, maka disamping penggunaan
berbagai istilah dalam tajuk subjek, perlu dipertimbangkan pula adanya
penggunaan penunjukan silang dalam tajuk subjek.
(Yulia
dan B.Mustafa, 2010: 7.6 - 7.7).
Jika dilihat dari segi tata bahasa, maka istilah-istilah tajuk subjek
bisa dalam bentuk kata benda tunggal, jamak atau terdiri dari beberapa kata. Menurut
jenisnya, tajuk subjek dibedakan dalam beberapa bentuk, yaitu:
1.
Tajuk tunggal
Yang dimaksud dengan tajuk tunggal adalah tajuk yang berasal dari kata
benda tunggal. Kata benda tunggal merupakan jenis tajuk subjek yang paling
ideal, karena bentuknya paling sederhana dan mudah dipahami.
2.
Tajuk ganda
Tidak semua tajuk
bisa dinyatakan dengan kata benda tunggal. Sebuah tajuk biasanya memerlukan
kata majemuk atau frasa. Untuk itu perlu penggabungan kata tunggal, baik dalam
bentuk frasa atau bentuk lainnya.
3.
Tajuk dengan subdivisi
Dalam
perpustakaan yang mempunyai koleksi besar, subjek perlu dibuat lebih rinci,
karena tajuk sederhana saja tidak selalu dapat menjawab pertanyaan pemakai
katalog dengan cepat dan memuaskan.
(Yulia
dan B. Mustafa, 2010: 7.8 – 7.9).
2.4.5 Indeks
Indeks adalah petunjuk yang berupa angka, huruf maupun tanda lain untuk
memberikan pengarahan kepada pencari informasi bahwa informasi yang lebih
lengkap maupun informasi yang terkait dapat ditemukan pada sumber yang ditunjuk
tadi (Lasa, 2009: 110). Indeks dapat digunakan untuk menunjukkan kumpulan
istilah bidang tertentu.
Indeks memiliki fungsi untuk memberikan informasi yang lebih lengkap dan
tepat, dan memerinci subyek menjadi unit-unit pengertian yang lebih kecil.
Indeks juga berfungsi untuk membantu dalam mencari suatu subyek.
Dalam DDC, terdapat indeks relatif untuk mencari notasi suatu subyek.
Pada indekas relatif terdapat sejumlah istilah yang disusun secara abjad. Cara
yang paling cepat untuk menemukan notasi suatu subjek adalah melalui indeks
relatif (Zen, 2009: 29). Menentukan notasi hanya melalui dan berdasarkan indeks
relatif saja tidak dapat dibenarkan. Setelah suatu subjek diperoleh notasinya
dalam indeks relatif, harus diadakan pengecekan dengan notasi yang terdapat
dalam bagan. Dalam klasifikasi lainnya seperti NTIS juga terdapat indeks.
Penggunaan indeks pada NTIS juga sama dengan DDC, termasuk susunannya juga
secara abjad.
Dalam DDC terdapat IV volume. Volume IV DDC merupakan tabel yang berisi
indeks relatif dari notasi-notasi yang tercantum pada volume I sampai volume
III. Indeks relatif bermanfaat bagi para petugas klasifikasi untuk membantu
dalam menempatkan subjek pada notasi yang paling sesuai.
Langkah-langkah dalam menggunakan indeks relatif adalah sebagai berikut:
a.
Gunakan istilah subjek untuk
menelusur jenis subjek sesuai hasil analisis subjek.
b.
Apabila dalam indeks istilah
subjek dikaitkan dengan istilah-istilah subjek lain, pilih istilah subjek yang
sesuai dengan disiplin yang dibahas dalam buku yang diklasifikasi.
c.
Apabila notasi telah dipilih,
periksa kembali ke dalam tabel (bagan) untuk menguji kebenaran dari notasi.
(Suwarno,
2007: 107).
2.5
Sistem Klasifikasi NTIS
NTIS merupakan database lembaga di Departemen Perdagangan Amerika
Serikat yang berfungsi sebagai repository pemerintah Amerika Serikat untuk
hasil penelitian dan pengembangan serta informasi lainnya yang dihasilkan oleh
dan untuk pemerintah serta berbagai sumber publik dan swasta seluruh dunia.
NTIS sebagai pusat sumber daya terbesar untuk pemerintah, rekayasa teknik, dan
informasi bisnis di Departemen perdagangan Amerika Serikat.
NTIS database
contains summaries of scientific, technical, engineering, and business
information products acquired by NTIS from 1964 to the present (Suliestyowati
dan Eka, 2010: 2). NTIS berisikan ringkasan ilmiah, rekayasa teknis dan produk
bisnis informasi.
Selama lebih dari 60 tahun NTIS telah dipercayakan
di bidang bisnis, universitas, dan akses publik. Sekitar 3 juta publikasi yang
mencakup lebih dari 350 bidang studi. Tujuan dari NTIS adalah untuk mendukung
misi Departemen Perdagangan Amerika Serikat untuk meningkatkan pertumbuhan
ekonomi nasional dengan menyediakan akses ke informasi yang merangsang inovasi
dan penemuan. (Hukum Publik 102-245, pasal 108 Keunggulan Teknologi Amerika Act
1991, dalam laporan Akbar Ramadhan 2010).
Skema klasifikasi NTIS yang dikembangkan oleh
Departemen Perdagangan Amerika Serikat sejak tahun 1950. Dikelompokkan dalam 39
kategori subyek mulai dari 41 (manufacturing
technology) hingga kelas 99 (chemistry). (Suliestyowati dan Eka,
2010: i).
NTIS membagi
ke dalam 39 subyek (kelas utama) dan sub kelas tersusun secara alfabetis dari A
sampai dengan Z. Sementara untuk
pencantuman nomor NTIS terdiri dari minimal dua digit (Kiemas, 2007:1).
Berikut disajikan subyek utama
yang terdapat dalam kelas NTIS.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar